Karawang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan siswa justru menyisakan persoalan serius di SMKN 1 Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Di tengah kegiatan tersebut, sebuah insiden kehilangan menimpa Rosa, siswi kelas XII, yang dompetnya raib di dalam kelas.
Anton, orang tua Rosa, mengungkapkan kekecewaannya atas peristiwa yang terjadi pada Selasa (3/2/2026) itu. Menurutnya, kejadian berlangsung sesaat setelah kegiatan MBG selesai, ketika para siswa masih berkumpul di dalam kelas.
“Awalnya kegiatan sudah selesai, anak-anak masih di kelas. Makan bersama dilakukan di situ, posisi duduk juga berdekatan. Suasananya ramai tapi masih terkendali,” ujar Anton saat ditemui Kamis (5/2/2026).
Namun, suasana yang dianggap aman itu berubah ketika Rosa menyadari dompet miliknya telah hilang. Di dalam dompet tersebut tersimpan uang tunai sebesar Rp500 ribu.
“Pas sadar, dompetnya sudah tidak ada. Isinya lima ratus ribu rupiah,” katanya.
Anton mengaku langsung mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan. Pihak sekolah, kata dia, menyampaikan rencana untuk mengumpulkan siswa dan melakukan briefing guna menelusuri kejadian. Namun, upaya tersebut dinilai tidak membuahkan hasil.
“Kata sekolah akan dikumpulkan dan dilakukan briefing. Tapi menurut anak saya, tidak ada satu pun yang mengaku,” jelasnya.
Yang lebih disesalkan, Anton menyoroti minimnya sistem pengamanan di sekolah. Ia mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa lingkungan SMKN 1 Rengasdengklok tidak dilengkapi kamera pengawas (CCTV).
“Saya tanya soal CCTV, ternyata memang tidak ada. Kalau ada CCTV, mungkin kejadian ini bisa ditelusuri,” ucapnya.
Menurut Anton, hilangnya dompet di lingkungan sekolah bukan sekedar persoalan nominal uang, melainkan cerminan lemahnya pengawasan dan keamanan. Ia menilai sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi siswa, baik secara fisik maupun terhadap barang pribadi.
“Kalau kejadian seperti ini bisa terjadi di sekolah, berarti sistem keamanannya patut dipertanyakan,” tegasnya.
Sebagai orang tua, Anton berharap pihak sekolah tidak menganggap remeh insiden tersebut. Ia mendesak adanya langkah konkret, mulai dari evaluasi pengamanan hingga penyediaan fasilitas pendukung seperti CCTV, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Harapan saya sederhana, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Sekolah harus benar-benar menjamin rasa aman bagi siswa,” pungkasnya.
Penulis: Alim


