KARAWANG — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 IWO Indonesia yang digelar di kawasan bersejarah Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok, Minggu (8/2/2026), menjadi sorotan. Dalam momentum tersebut, Ketua Umum IWO Indonesia, Dr. NR. Icang Rahardian, S.H., M.H., S.Ak., melontarkan pesan tegas soal pentingnya pengawasan program pemerintah, peningkatan kualitas jurnalis, serta rencana besar organisasi menuju 2027.
Di hadapan para pengurus dan anggota, Dr. Icang mengapresiasi kekompakan jajaran IWO Indonesia, khususnya di Kabupaten Karawang. Ia menyebut, meski peringatan HUT ke-8 tahun ini digelar secara sederhana tanpa perayaan nasional, organisasi tengah menyiapkan agenda besar pada 2027.
“Tahun ini kita rayakan secara sederhana. Insya Allah pada 2027, saat usia organisasi memasuki tahun ke-9, kita siapkan agenda nasional yang lebih besar,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan perjalanan IWO Indonesia sejak berdiri pada 2018 di Padang, Sumatera Barat. Menurutnya, organisasi sempat mengalami pasang surut di sejumlah daerah, namun mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan setelah berkembang di Karawang hingga menjangkau berbagai provinsi.
Karawang, lanjutnya, bukan sekedar lokasi kegiatan, tetapi memiliki makna historis sebagai “pangkal perjuangan” bangsa. Nilai sejarah itu, menurutnya, menjadi simbol semangat bagi IWO Indonesia untuk terus bangkit dan berkembang.

Dalam arahannya, Dr. Icang menekankan pentingnya koordinasi organisasi dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Ia juga meminta seluruh jajaran IWO Indonesia aktif mengawasi berbagai program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis.
“Program nasional harus kita dukung sekaligus kita awasi. Pastikan kualitas makanan layak, jumlahnya sesuai, dan tidak ada penyimpangan. Kalau ada yang tidak layak, angkat menjadi berita,” ujarnya.
Instruksi itu, kata dia, penting agar tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan program, baik dari segi kualitas makanan maupun jumlah penerima.
Selain pengawasan, Dr. Icang juga menyoroti persoalan mendasar di tubuh organisasi pers, yakni kualitas sumber daya manusia. Ia mengingatkan bahwa wartawan harus terus belajar, memahami kode etik, serta meningkatkan kemampuan menulis dan analisis.
“Jangan hanya penampilan yang keren, tapi ilmunya kosong. Wartawan harus terus belajar. SDM harus ditingkatkan, kemampuan harus ditambah,” katanya.
Ia bahkan menegaskan bahwa organisasi harus berani membina anggota yang belum memiliki kemampuan jurnalistik yang memadai, agar ke depan IWO Indonesia benar-benar diisi jurnalis yang profesional.
Tak hanya itu, Dr. Icang membeberkan visi besar organisasi, yakni membangun tempat uji kompetensi (TUK) di seluruh kabupaten/kota, hingga mendirikan lembaga pendidikan yang mencakup SMP, SMA, dan universitas pada 2027.
“Target kita, setelah organisasi profesional, kita akan bangun TUK di seluruh daerah. Bahkan kita punya mimpi besar membangun universitas, dari tingkat SMP, SMA hingga perguruan tinggi,” ungkapnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar keluarga para jurnalis memiliki akses pendidikan yang lebih baik di masa depan.
Menutup sambutannya, Dr. Icang mengajak seluruh anggota untuk tetap solid dan bersatu menghadapi tantangan organisasi ke depan.
“Mari satukan barisan, bulatkan tekad menuju hari kemenangan. Saya yakin 2027 akan menjadi tolak ukur IWO Indonesia sebagai organisasi yang profesional,” pungkasnya.
IWO Indonesia! IWO Indonesia! IWO Indonesia! Jurnalis Terpercaya!
Penulis: Alim


