
Karawang – Bayang-bayang megahnya pembangunan Stadion Singaperbangsa Karawang kini tercoreng persoalan serius. Di balik progres fisik yang terus berjalan, tersimpan deretan keluhan pekerja hingga pelaku UMKM yang mengaku belum menerima pembayaran selama berbulan-bulan.
Sejumlah pekerja yang didatangkan dari Lampung sejak 12 Januari 2025 mengaku hingga kini belum menerima gaji sepeser pun. Salah satunya, Farhan, menyebut kondisi ini sudah berlangsung hampir delapan bulan tanpa kejelasan.
“Sudah hampir delapan bulan kerja, tapi belum dibayar sama sekali. Biasanya dua minggu sekali gajian, sekarang kosong total,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Farhan mengungkapkan, total kerugian yang dialami lima pekerja mencapai sekitar Rp23 juta. Selama ini mereka hanya menerima janji tanpa realisasi dari pihak mandor.
“Dari sebelum puasa sampai sekarang cuma dijanjiin terus. Katanya diusahakan, tapi enggak ada hasil,” katanya dengan nada kecewa.
Tak hanya pekerja, dampak proyek ini juga menghantam pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Warung makan yang selama ini menopang kebutuhan konsumsi pekerja justru ikut terseret dalam pusaran utang.
Mimin, pemilik warung nasi, mengaku harus menanggung kerugian hingga Rp25 juta akibat tagihan yang belum dibayar sejak Desember 2025. Ia bahkan terpaksa menggunakan uang pribadi hingga berutang untuk menutup biaya operasional.
“Dari tahap pertama sampai kedua belum ada pelunasan. Kita pakai uang pribadi, bahkan sampai pinjam ke orang,” ungkapnya.
Keluhan serupa datang dari pemilik warung lain yang mengalami kerugian lebih besar, mencapai Rp47,4 juta. Kondisi ini tak hanya menggerus usaha, tetapi juga berdampak pada kesehatan.
“Awalnya lancar, tapi sejak Desember macet total. Saya sampai sakit mikirin utang karena modalnya pinjaman,” keluhnya.
Tak berhenti di situ, pemasok material proyek juga disebut mengalami kerugian sekitar Rp35 juta yang hingga kini belum dibayarkan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana proyek sebesar stadion bisa berjalan, sementara kewajiban dasar terhadap pekerja dan mitra lokal justru terabaikan?
Pihak CV Sexy Road melalui Fajri mengakui masih adanya sisa pembayaran kepada pekerja. Ia menyebut sebagian sudah diberikan dalam bentuk kasbon, sementara persoalan utang ke warung disebut baru diketahui di akhir proyek.
“Memang ada sisa, tapi sudah banyak yang dibayar. Untuk warung, saya baru tahu di akhir pekerjaan karena ada pekerja yang kabur dan meninggalkan utang,” jelasnya.
Fajri juga menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan seluruh kewajiban, meski meminta waktu karena keterbatasan dana.
“Saya tanggung jawab, walaupun ada yang di luar kendali seperti kepala tukang yang kabur. Saya tetap akan bayarkan, tapi butuh waktu,” katanya.
Namun bagi para pekerja dan pelaku UMKM, waktu bukan lagi sekedar angka, melainkan tekanan hidup yang terus menumpuk. Mereka kini berharap pemerintah daerah, termasuk Bupati Karawang, turun tangan menyelesaikan persoalan ini.
“Harapannya sederhana, dibayar. Kita kerja pakai tenaga, warung pakai modal sendiri. Kalau begini terus, kami yang kecil yang hancur,” tegas Farhan.
Di tengah proyek yang terus berjalan, nasib mereka justru terhenti, terjebak antara kebutuhan hidup dan janji yang tak kunjung ditepati.

