
Sukabumi – Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti prosesi wisuda santri angkatan ke-34 Pondok Pesantren Al-Jamiliyyah yang digelar di Kampung Cimahi, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (12/4/2026).
Dalam momen penuh makna tersebut, panitia penyelenggara, Ustadz Abdul Muiz, menyampaikan sambutan sekaligus membacakan surat keputusan kelulusan bagi para santri yang tergabung dalam angkatan Shofwatul Muhajirin.
Di hadapan pimpinan pesantren, dewan pengajar, serta para wali santri, Abdul Muiz mengajak para wisudawan untuk menoleh sejenak ke belakang, mengingat awal perjalanan mereka saat pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan pesantren.
“Momen perpisahan dengan orang tua, dengan air mata dan harapan, adalah awal dari perjuangan panjang. Dari tangisan ingin pulang, hingga hari ini menangis karena bahagia, semua itu adalah proses,” ujarnya.
Selama menempuh pendidikan 3 hingga 6 tahun, para santri tidak hanya ditempa secara akademik, tetapi juga dibentuk dalam disiplin, kesabaran, dan akhlak. Ia juga menyinggung berbagai kenangan khas kehidupan pesantren, mulai dari antre mandi hingga suara bedug yang menjadi identitas tersendiri.

Lebih jauh, Abdul Muiz menegaskan pentingnya menjaga adab kepada orang tua dan guru, dua sosok yang menjadi kunci keberkahan ilmu.
“Jangan tunggu penyesalan datang saat mereka telah tiada. Selagi masih ada, mintalah maaf dan jaga kepercayaan mereka,” pesannya tegas.
Berdasarkan hasil musyawarah dewan pengajar, sebanyak 37 santri dinyatakan lulus, terdiri dari 24 santri tingkat SLTP dan 13 santri tingkat SLTA. Seluruhnya telah melewati rangkaian ujian, mulai dari tertulis, lisan, hingga praktik, dengan predikat beragam seperti Mumtaz, Jayyid Jiddan, dan Jayyid.
Pada kesempatan tersebut, sejumlah penghargaan juga diumumkan. Predikat Muhafadzoh terbaik tahun 2026 diraih oleh Siti Nur Azizah Sa’diyah, yang unggul dalam hafalan kitab hingga Alfiyah Ibnu Malik.
Sementara itu, gelar lulusan terbaik diraih oleh Abdul Aziz, yang mencatatkan nilai dominan angka sembilan dalam ijazahnya sekaligus meraih peringkat pertama. Posisi kedua ditempati Siti Nur Azizah Sa’diyah, dan peringkat ketiga diraih Rian Nur Alfiana.
Menutup sambutannya, Abdul Muiz mengingatkan bahwa setiap santri memiliki kelebihan masing-masing dan tidak boleh menyerah pada kekurangan.
“Jadikan kekurangan sebagai pendorong untuk terus berkembang dan menemukan jati diri,” tutupnya.
Wisuda ini bukan sekedar seremoni kelulusan, melainkan penanda berakhirnya satu fase perjuangan dan dimulainya babak baru pengabdian para santri di tengah masyarakat, dengan bekal ilmu dan akhlak yang telah ditempa di pesantren.

