
Sukabumi – Momentum wisuda santri angkatan ke-34 Pondok Pesantren Al-Jamiliyyah di Kampung Cimahi, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tak hanya dipenuhi suasana haru, tetapi juga sarat pesan spiritual dan nasihat kehidupan.
Pimpinan pesantren, K.H. Miftahul Ulum yang akrab disapa Ayah, menyampaikan tausiyah yang menggugah kepada para wisudawan, orang tua, serta seluruh hadirin, Minggu (12/4/2026).
Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh yang hadir untuk bersyukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya acara tasyakur bini’mat bagi para wisudawan dan wisudawati.
“Marilah kita bersyukur dan berdoa, semoga para santri menjadi generasi ulama yang saleh, berakhlak mulia, istiqomah dalam menuntut ilmu, serta sukses dunia dan akhirat,” ujarnya.
Ia juga secara khusus mendoakan para santri yang terlibat dalam acara, termasuk para pembawa acara, agar kelak menjadi generasi penerus ulama di masa depan.
Menurutnya, perjalanan menuntut ilmu tidak akan pernah lepas dari tantangan. Justru dari tantangan itulah karakter dan keteguhan seorang santri akan terbentuk.
“Tetaplah istiqomah. Setiap langkah pasti ada ujian. Semakin tinggi tujuan, semakin besar pula tantangannya,” pesannya.

Lebih lanjut, K.H. Miftahul Ulum menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bentuk rasa syukur atas proses panjang yang telah dilalui. Ia juga meluruskan pemahaman bahwa kelulusan bukan berarti harus meninggalkan pesantren sepenuhnya.
“Ini adalah bentuk syukuran kepada Allah. Silahkan jika ingin melanjutkan pendidikan di sini, pintu selalu terbuka,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya peran dua sosok orang tua dalam kesuksesan santri, yakni orang tua lahir (orang tua kandung) dan orang tua batin (guru).
“Kesuksesan kalian adalah hasil dari doa dan bimbingan keduanya. Hormati mereka, karena doa mereka adalah kunci keberhasilan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan para santri selama menempuh pendidikan di pesantren merupakan hal yang patut disyukuri, dari pribadi yang awalnya manja, kini tumbuh menjadi lebih dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab.
Menutup pesannya, ia memberikan tiga bekal utama bagi para santri:
• Terus menuntut ilmu tanpa henti
• Menjaga akhlak dalam setiap keadaan
• Menghormati orang tua dan guru, baik lahir maupun batin
“Pintar saja tidak cukup. Jadilah pribadi yang jujur, sopan, dan berakhlak mulia,” pesannya.
Dengan penuh haru, ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada para santri dan wali atas segala kekurangan selama proses pendidikan, seraya menegaskan bahwa semua dilakukan demi kebaikan masa depan para santri.
“Selamat jalan anak-anakku. Teruslah berjuang, jadilah kebanggaan orang tua dan pesantren. Jangan lupakan jati diri kalian sebagai santri,” ucapnya.
Acara ditutup dengan doa penuh harap agar seluruh santri menjadi generasi yang saleh, berilmu, ikhlas, dan istiqomah dalam kebaikan.
Wisuda ini bukan sekedar seremoni, tetapi menjadi titik awal perjalanan panjang para santri dalam mengamalkan ilmu dan menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

