Jerat Hutang, Ujungnya Neraka di Negeri Orang: PMI Asal Bekasi Disiksa, Negara Di Mana?

0
Caption: Jerat Hutang, Ujungnya Neraka di Negeri Orang: PMI Asal Bekasi Disiksa, Negara Di Mana?

Bekasi — Impian mengubah nasib justru berubah menjadi mimpi buruk. Susi Sulistiani (32), warga Desa Sumbersari, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, kini terjebak dalam situasi memilukan di Riyadh, Arab Saudi. Perempuan yang berangkat sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) itu diduga mengalami kekerasan fisik, tidak digaji, hingga kehilangan dokumen penting, sementara negara seolah belum hadir menyelamatkannya.

Semua bermula dari satu kata: hutang.

Suaminya, Samsudin (41), mengungkap dengan suara berat bahwa tekanan ekonomi memaksa istrinya mengambil jalan beresiko. “Intinya karena hutang,” ujarnya, Minggu (3/5/2026). Ironisnya, keputusan itu tidak pernah benar-benar ia setujui. Namun, proses perekrutan berjalan tanpa transparansi.

Dalih awal pun terdengar janggal. “Katanya mau jual paspor, ada keperluan. Ujung-ujungnya berangkat juga,” ungkap Samsudin, menyinggung dugaan bujuk rayu dari pihak sponsor.

Nama-nama seperti inisial SB dan HC kini mencuat, disebut-sebut sebagai pihak yang diduga terlibat dalam proses perekrutan dari wilayah Cibuaya dan Banjar Sari. Namun hingga kini, keberadaan dan tanggung jawab mereka masih gelap.

Enam bulan di Riyadh, kondisi Susi justru kian memburuk. Ia diduga mengalami kekerasan dari majikan, tidak menerima gaji sepeser pun, bahkan paspornya, simbol identitas dan kebebasan, disebut telah “dibuang”.

“Dia didorong, disiksa. Gaji tidak ada, paspor hilang,” kata Samsudin.

Upaya Susi untuk melarikan diri pun berujung kebuntuan. Ia sempat meminta bantuan hingga kasusnya dilaporkan ke polisi setempat, namun kini justru berada di kantor agen di Riyadh, tanpa kepastian, tanpa perlindungan jelas.

Lebih menyayat, komunikasi dengan keluarga hampir terputus total. Kontak terakhir terjadi tiga minggu lalu, itu pun dengan meminjam ponsel orang lain. Sejak saat itu: sunyi.

“Istri saya cuma bilang ingin pulang. Sudah tidak kuat, sering sakit, perutnya sakit terus,” ujar Samsudin.

Di tanah air, seorang bayi menunggu tanpa pelukan ibunya.

Di balik narasi “pahlawan devisa”, kisah seperti Susi kembali membuka luka lama: rapuhnya sistem perlindungan PMI. Dugaan perekrutan tidak transparan, lemahnya pengawasan, hingga minimnya respons cepat ketika korban sudah berteriak minta tolong, semua menjadi potret buram yang terus berulang.

Pertanyaannya sederhana tapi menohok: Berapa banyak lagi Susi lain yang harus menderita sebelum negara benar-benar bertindak?

Keluarga kini hanya bisa berharap. Bukan lagi soal mimpi memperbaiki ekonomi, melainkan satu hal paling mendasar: pulang dengan selamat.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini