Janji Rp420 Ribu Berujung Nestapa: 8 Warga Rengasdengklok Terlantar di OKI, Minta Dipulangkan

0
Caption: Janji Rp420 Ribu Berujung Nestapa: 8 Warga Rengasdengklok Terlantar di OKI, Minta Dipulangkan

Karawang — Sebuah video yang viral di media sosial mengungkap potret pahit nasib delapan pekerja asal Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Mereka kini terlantar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, setelah terjebak janji manis pekerjaan dengan bayaran tinggi yang jauh dari kenyataan.

Dalam rekaman tersebut, para pekerja tampak lelah dan putus asa. Salah satu dari mereka mewakili kelompok menyampaikan permohonan bantuan kepada aparat desa di kampung halaman. Dengan suara lirih penuh harap, ia mengungkapkan bahwa mereka awalnya dijanjikan upah Rp420 ribu per hari untuk bekerja di kebun tebu. Namun realita yang mereka hadapi justru sangat kontras, hanya menerima sekitar Rp60 ribu per hari, itu pun belum dipotong biaya makan dan kebutuhan lainnya.

Alih-alih menabung atau mengirim uang ke keluarga, para pekerja justru harus nombok setiap hari. Biaya makan dan rokok yang mencapai Rp65 ribu hingga Rp70 ribu membuat penghasilan mereka tak cukup untuk bertahan hidup.

“Kami ke sini delapan orang dari Desa Rengasdengklok Utara, dua dari Desa Rengasdengklok Selatan. Bukannya dapat penghasilan, malah nombok. Kami minta tolong, Pak, ingin pulang,” ujar perwakilan pekerja dalam video tersebut.

Beban kerja berat di bawah terik matahari, ditambah tekanan ekonomi yang semakin menghimpit, membuat mereka tak sanggup lagi melanjutkan pekerjaan. Minimnya uang yang tersisa membuat mereka seperti terjebak, tak bisa bertahan, namun juga tak mampu pulang.

Permohonan bantuan pun ditujukan kepada Kepala Desa Rengasdengklok Utara H. Nana Suryana, Kepala Desa Rengasdengklok Selatan Hj. Asih Mintarsih, pihak Kecamatan Rengasdengklok, hingga Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh agar segera mengambil langkah konkret untuk memulangkan mereka.

Kasus ini kembali menampar keras lemahnya pengawasan terhadap praktik perekrutan tenaga kerja. Janji manis terus menjadi umpan, sementara perlindungan terhadap pekerja justru absen. Warga kecil kembali menjadi korban, tenaganya diperas, nasibnya diabaikan.

Kini publik menanti: apakah ada tindakan nyata, atau kisah serupa akan terus berulang tanpa ujung?

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini