Kasus Dugaan Penelantaran PMI Susi Sulistiani di Riyadh Memanas, Publik Soroti Rantai Tanggung Jawab yang Kabur

0
Caption: Kasus Dugaan Penelantaran PMI Susi Sulistiani di Riyadh Memanas, Publik Soroti Rantai Tanggung Jawab yang Kabur

BEKASI – Kasus dugaan penelantaran Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Pacing Bedeng, Desa Sumber Sari, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, bernama Susi Sulistiani (32), yang kini berada di Riyadh, Arab Saudi, kian memantik kemarahan publik.

Di tengah harapan keluarga yang terus menanti kepastian pemulangan, respons yang muncul justru dinilai tidak memberikan kejelasan, berputar pada alasan, serta minim langkah konkret.

Sorotan publik kini mengarah pada seorang sponsor bernama Siti Badriah, warga Desa Cibuaya, Karawang, yang disebut terlibat dalam proses keberangkatan Susi ke Arab Saudi. Namun alih-alih memberi penjelasan yang menenangkan, komunikasi yang terjadi justru menimbulkan tanda tanya baru.

Dalam sejumlah percakapan dengan Forum Perlindungan Migran Indonesia (FPMI) DPD Karawang, Siti kerap menyampaikan alasan kesibukan, salah satunya menyebut sedang dalam perjalanan.

“Bentar ya, Pak, saya ini masih sibuk di jalan. Entar saya telepon ya,” ujarnya dalam pesan suara.

Tak lama berselang, jawaban serupa kembali disampaikan, disertai janji untuk menghubungi kembali setelah sampai tujuan. Namun pertemuan yang diharapkan tak kunjung terjadi.

“Nanti kalau saya sampai di situ saya telepon ya, Pak. Ini saya masih di jalan,” lanjutnya.

Situasi ini memicu reaksi keras dari masyarakat, mengingat keluarga korban tengah berada dalam kondisi cemas menunggu kepastian pemulangan Susi dari Riyadh.

Alasan lain yang juga menuai sorotan adalah pengakuan Siti yang menyebut dirinya jarang berada di rumah karena kesibukan.

“Insya Allah kita ketemu di luar aja ya, Pak. Soalnya kan kalau saya enggak pernah ada di rumah, Pak. Paling ada malam, selesai kerja,” ucapnya.

Tak hanya itu, ia juga menyebut tidak memegang nomor kontak sponsor lain bernama Bu Cucum, warga Kampung Kuda-Kuda, Desa Sumber Sari, Kecamatan Pebayuran, Bekasi, dengan alasan telepon genggamnya sedang digadaikan.

“Ada juga di HP yang satu, tapi HP-nya lagi ada di pegadaian,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memicu kritik publik yang menilai persoalan serius menyangkut keselamatan PMI tidak seharusnya terhambat oleh alasan administratif maupun teknis yang dianggap tidak profesional.

Rencana pertemuan yang sempat dijadwalkan pun beberapa kali berubah, mulai dari lokasi hingga waktu. Bahkan sempat muncul ajakan bertemu di kawasan Jembatan Bojong Rengasdengklok, namun kembali tertunda dengan alasan kesibukan kuliah dan pekerjaan.

“Besok pagi saya benar-benar padat, Pak. Ya yang namanya orang lagi kuliah,” ujarnya.

Di sisi lain, Siti membantah tudingan tidak kooperatif. Ia menegaskan dirinya hanya sebagai penghubung yang mempertemukan Susi dengan sponsor lain bernama Bu Cucum yang disebut lebih mengetahui proses penempatan PMI.

“Saya cuma sebatas kasih ke Bu Cucum,” katanya.

Namun pernyataan lain justru kembali memicu pertanyaan, ketika ia mengakui bahwa dirinya yang awalnya membawa Susi untuk bekerja ke luar negeri.

“Emang benar itu TKW saya yang bawa dari awal. Saya langsung lemparnya ke Bu Cucum, Pak. Kok jadi saya diituin terus,” ujarnya.

Istilah “lempar ke Bu Cucum” kini menjadi sorotan publik, karena dianggap menggambarkan kaburnya rantai tanggung jawab dalam proses penempatan PMI. Saat perekrutan berjalan mulus, namun ketika muncul persoalan di luar negeri, tanggung jawab justru saling dilempar.

Siti juga menyebut perusahaan penyalur masih ada dan dapat dimintai pertanggungjawaban.

“PT-nya ada kok. PT Palarima, PT Panca,” katanya.

Hingga kini, belum terlihat adanya langkah konkret terkait kepastian pemulangan Susi Sulistiani dari Riyadh. Sementara keluarga korban masih terus menunggu dengan harapan yang belum menemukan kepastian.

Kasus ini kembali membuka luka lama tentang lemahnya pengawasan dan ketidakjelasan tanggung jawab dalam penempatan pekerja migran Indonesia. Di tengah berbagai alasan, janji, dan pertemuan yang tak kunjung terjadi, satu pertanyaan publik semakin menguat:

Jika semua pihak merasa hanya “penghubung”, lalu siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas keselamatan PMI di negeri orang?

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini