Diduga Ditolak di IGD RSUD Rengasdengklok, Warga Karawang Kecewa: “Saya Orang Awam, Tidak Tahu SPGDT”

0
Caption: Diduga Ditolak di IGD RSUD Rengasdengklok, Warga Karawang Kecewa: "Saya Orang Awam, Tidak Tahu SPGDT"

Karawang — Dugaan buruknya pelayanan kembali mencoreng dunia kesehatan di Kabupaten Karawang. Seorang warga Desa Tambaksumur, Kecamatan Tirtajaya, mengaku kecewa usai anaknya diduga sempat ditolak saat hendak mendapatkan penanganan di IGD RSUD Rengasdengklok pada Sabtu malam (16/5/2026) sekitar pukul 20.15 WIB.

Titin, warga Pangakaran, Desa Tambaksumur, menuturkan dirinya datang ke rumah sakit dengan harapan sang anak segera mendapat pertolongan medis. Namun alih-alih mendapat pelayanan yang menenangkan, ia justru mengaku mendapat respons ketus dari seorang dokter perempuan yang berjaga di IGD.

Menurut pengakuannya, dokter tersebut mempertanyakan alasan dirinya datang melalui rujukan puskesmas dan bukan langsung ke rumah sakit. Bahkan, dokter disebut meminta agar pasien dikirim melalui sistem SPGDT.

“Dokter jaga bilang kenapa nggak langsung datang sendiri ke sini, nggak usah lewat puskesmas. Dan kata dokter harus kirim SPGDT. Saya juga nggak tahu apa itu SPGDT, saya kan orang awam,” ujar Titin dengan nada kecewa.

Situasi makin memanas ketika dokter tersebut, menurut Titin, sempat memarahi perawat yang mengantar anaknya ke IGD. Sikap itu membuat keluarga pasien merasa tersinggung dan kehilangan kenyamanan di tengah kondisi panik mencari pertolongan.

“Harusnya melayani pasien itu baik-baik, tidak perlu marah-marah seperti itu. Saya jadi kesel juga, karena saya benar-benar nggak tahu soal SPGDT,” katanya.

Karena merasa tidak mendapatkan pelayanan yang layak, Titin akhirnya memutuskan membawa anaknya ke RS Hastien Rengasdengklok untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Peristiwa ini langsung memicu sorotan publik terkait kualitas pelayanan kesehatan, khususnya cara komunikasi tenaga medis kepada masyarakat kecil yang awam terhadap istilah dan prosedur medis. Banyak pihak menilai, rumah sakit seharusnya menjadi tempat masyarakat mencari pertolongan, bukan malah membuat keluarga pasien merasa takut, bingung, atau dipersalahkan karena tidak memahami sistem seperti SPGDT.

“Kalau masyarakat awam dimarahi karena tidak paham prosedur, lalu di mana letak pelayanan humanisnya?” ujar salah seorang warga yang ikut menyoroti kejadian tersebut.

Kasus ini juga memunculkan pertanyaan lebih besar soal standar etika pelayanan di fasilitas kesehatan milik pemerintah. Di tengah tuntutan pelayanan cepat dan ramah, dugaan sikap arogan tenaga medis dinilai dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit daerah.

Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Rengasdengklok belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penolakan pasien maupun sikap dokter jaga yang dikeluhkan keluarga pasien.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini