Dari Rengasdengklok untuk Indonesia, Doa Bersama Menggema di Malam Hari Lahir Pancasila

0
Caption: Dari Rengasdengklok untuk Indonesia, Doa Bersama Menggema di Malam Hari Lahir Pancasila

Karawang – Suasana yang tak biasa menyelimuti kawasan Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 00.00 WIB, Senin (1/6/2026). Seluruh lampu di area tugu dipadamkan, menghadirkan keheningan yang menyentuh relung hati para hadirin. Dalam gelap gulita selama 12 menit, ratusan peserta larut dalam renungan suci dan doa bersama untuk keselamatan bangsa Indonesia.

Momen penuh makna tersebut menjadi puncak kegiatan Istighosah Nasional dan Malam Renungan Suci yang digelar pada Minggu malam (31/5/2026) dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila. Kegiatan berlangsung di kawasan Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok, salah satu situs bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia.

Acara diselenggarakan oleh Yayasan Pendopo Merah Putih Mangku Nagara XXI yang dipimpin Sutolih Kendali Sulthon atau yang akrab disapa Bang Sulthon. Sejak pukul 21.00 WIB, para peserta mengikuti rangkaian istighosah, doa bersama, dan refleksi kebangsaan yang berlangsung hingga dini hari.

Meski sosialisasi kegiatan terbilang minim, antusiasme masyarakat justru begitu tinggi. Jamaah dan peserta terus berdatangan dari berbagai daerah seiring bertambah larutnya malam. Mereka hadir untuk bermunajat dan merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan bangsa di lokasi yang sarat sejarah.

Berbagai elemen masyarakat turut hadir, mulai dari jamaah pengajian, komunitas, paguyuban, Forum Budaya, organisasi kemasyarakatan, LSM, Karang Taruna, organisasi kepemudaan, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga unsur pemerintahan.

Caption: Dari Rengasdengklok untuk Indonesia, Doa Bersama Menggema di Malam Hari Lahir Pancasila

Putra pejuang 1945, Aa Wiwin Winara, mengaku terharu melihat masih tingginya kepedulian masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa.

“Saya bersyukur masih ada yang menggelar doa bersama di Rengasdengklok. Terima kasih kepada warga Bekasi yang hadir serta masyarakat Rengasdengklok yang turut menyukseskan kegiatan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kang Cece Wikana, kuncen Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok, terlihat melakukan ritual pembukaan usai salat Isya sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Budaya Rengasdengklok (FKBR), Daday Iskandar, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan sakral di lokasi yang ia sebut sebagai “Titik Nol Indonesia”. Menurutnya, Rengasdengklok merupakan tempat yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan pada tahun 1945.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Bang Sulthon mengingatkan kembali sejarah lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945 serta pentingnya menjaga semangat persatuan dan gotong royong. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekedar seremoni tahunan, melainkan ikhtiar bersama untuk memanjatkan doa demi keselamatan bangsa dan negara.

“Kami mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum memperkuat persatuan, menjaga keutuhan bangsa, dan mewujudkan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.

Kegiatan yang bertepatan dengan 1 Juni 2026 atau 15 Dzulhijjah 1447 Hijriah tersebut ditutup dengan doa bersama untuk kebaikan, kemajuan, kesejahteraan, dan keselamatan bangsa Indonesia.

Dari Rengasdengklok, tempat yang menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa, gema doa dan renungan suci kembali mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari demi Indonesia yang lebih maju, bersatu, adil, dan sejahtera.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini