Jakarta – Bangsa Indonesia hari ini memperingati Hari Lahir Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno atau yang akrab dikenal sebagai Bung Karno. Lahir pada 6 Juni 1901, Bung Karno dikenang sebagai Proklamator Kemerdekaan, penggali Pancasila, sekaligus tokoh yang meletakkan fondasi kebangsaan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Peringatan Hari Lahir Bung Karno setiap 6 Juni memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial yang menjadi warisan pemikirannya.
Bulan Juni sendiri dikenal sebagai “Bulan Bung Karno” karena di dalamnya terdapat rangkaian peristiwa bersejarah yang erat dengan Sang Proklamator, yakni Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni, serta wafatnya Bung Karno pada 21 Juni. Rangkaian momentum ini menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari gagasan besar dan perjuangan Bung Karno dalam membangun identitas nasional.
Menanggapi peringatan Hari Lahir Bung Karno tahun 2026, Asep Denda Triana, S.H., Pengurus Ikatan Mahasiswa Magister Hukum Universitas Bung Karno (IMMH UBK), menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan Bung Karno masih sangat relevan dalam menjawab tantangan kebangsaan saat ini.
“Bung Karno tidak hanya mewariskan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia, tetapi juga cita-cita besar tentang keadilan sosial, kedaulatan rakyat, dan persatuan nasional. Hari Lahir Bung Karno harus menjadi momentum refleksi bagi seluruh anak bangsa untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila dan perjuangan membangun Indonesia yang berkeadilan,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Ia juga menekankan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab historis untuk melanjutkan perjuangan Bung Karno melalui kontribusi nyata di berbagai bidang, seperti pendidikan, hukum, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
“Sebagai generasi penerus, kita tidak cukup hanya mengenang Bung Karno melalui seremoni. Yang lebih penting adalah mengimplementasikan pemikiran beliau dalam kehidupan sehari-hari: menjaga persatuan bangsa, menegakkan hukum yang berkeadilan, serta memastikan pembangunan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan kembali pesan Bung Karno tentang JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah), sebuah semboyan yang dipopulerkan dari pidato terakhir Presiden Soekarno pada HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 1966 berjudul “Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!”. Pesan tersebut dinilai tetap relevan sebagai pengingat agar bangsa Indonesia tidak melupakan perjuangan para pendiri bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Peringatan Hari Lahir Bung Karno tahun 2026 diharapkan menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat semangat nasionalisme, memperkokoh persatuan dalam keberagaman, serta melanjutkan cita-cita Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya,” menjadi penegasan akhir yang mencerminkan semangat kolektif untuk terus melangkah menuju Indonesia yang lebih adil, maju, dan bermartabat.


