2.200 Pendaftar Berebut 400 Kursi, SMAN 3 Karawang Diterpa Keluhan Nama Hilang dan Nomor Urut Ganda

0
2.200 Pendaftar Berebut 400 Kursi, SMAN 3 Karawang Diterpa Keluhan Nama Hilang dan Nomor Urut Ganda

Karawang – Polemik Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Karawang kian memanas. Di tengah membeludaknya pendaftar jalur domisili ke SMAN 3 Karawang, muncul keluhan dari sejumlah orang tua siswa yang mengaku menemukan nama anak mereka tiba-tiba hilang dari daftar seleksi hingga dugaan nomor urut ganda dalam sistem pendaftaran.

Keluhan tersebut langsung mendapat respons dari Joko, Humas SMAN 3 Karawang. Ia meminta masyarakat yang menemukan dugaan kejanggalan untuk tidak hanya menyampaikan keluhan secara lisan, melainkan membawa bukti berupa tangkapan layar atau screenshot.

“Kalau katanya ada nomor urut ganda atau nama siswa hilang, screenshot saja. Harus ada bukti. Kalau memang ada buktinya, datang ke saya, nanti saya jelaskan,” kata Joko, Selasa (9/6/2026).

Pernyataan itu muncul setelah sejumlah wali murid mengaku cemas karena nama anak mereka yang sebelumnya tercantum dalam daftar seleksi mendadak tidak lagi muncul saat dilakukan pengecekan ulang. Dugaan error sistem pun mulai menjadi perbincangan di kalangan orang tua siswa.

Namun di sisi lain, Joko mengungkapkan fakta yang membuat persaingan masuk SMAN 3 Karawang sangat ketat. Menurutnya, jumlah pendaftar jalur domisili mencapai sekitar 2.200 orang, sementara kuota yang tersedia hanya sekitar 400 kursi.

“Yang daftar ke sini sekitar 2.200 orang. Kuota kita hanya 400,” ungkapnya.

Data tersebut berarti hanya sekitar satu dari lima pendaftar yang berpeluang diterima. Kondisi itu memicu pertanyaan publik: apakah persoalan yang terjadi murni akibat persaingan yang sangat ketat, atau memang terdapat kendala teknis dalam sistem seleksi?

Joko menegaskan bahwa sejak awal pihak sekolah telah melakukan sosialisasi kepada SMP dan kepala sekolah terkait berbagai jalur penerimaan yang tersedia. Namun, mayoritas calon siswa tetap memilih jalur domisili dengan tujuan masuk ke sekolah favorit.

Akibatnya, ribuan siswa menumpuk pada jalur yang sama dan bersaing memperebutkan kuota yang sangat terbatas.

Meski demikian, keluhan dari para orang tua belum mereda. Mereka menilai pihak penyelenggara perlu memberikan penjelasan yang lebih terbuka terkait perubahan data peserta, pergeseran peringkat yang terjadi secara cepat, hingga laporan nama siswa yang disebut hilang dari sistem.

“Kalau memang hanya soal persaingan kuota, masyarakat bisa menerima. Tapi kalau ada nama yang hilang atau nomor urut yang bermasalah, tentu harus dijelaskan secara transparan,” ujar AR salah seorang wali murid.

Polemik ini pun memunculkan pertanyaan yang ramai diperbincangkan masyarakat: apakah sistem SPMB benar-benar berjalan tanpa kendala, atau justru ada persoalan teknis yang belum terungkap?

Di tengah persaingan 2.200 pendaftar untuk 400 kursi, satu hal yang kini paling ditunggu publik adalah transparansi penuh dari penyelenggara. Sebab bagi para orang tua, yang dipertaruhkan bukan sekedar angka dalam sistem, melainkan masa depan anak-anak mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini