
Karawang – Di tengah derasnya perdebatan soal Program Makan Bergizi Gratis (MBG), puluhan warga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Karawang Bersatu memilih turun langsung ke depan Kantor Pemerintah Kabupaten Karawang, Rabu (24/6/2026). Dengan pengeras suara dan spanduk besar, mereka menyampaikan pesan yang tegas: dukung program untuk rakyat, hentikan politisasi yang mengaburkan tujuan utamanya.
Aksi ini bukan sekedar unjuk rasa biasa. Di balik spanduk yang terbentang, tersimpan kegelisahan yang kini mulai dirasakan banyak pihak. Program yang awalnya digadang-gadang menjadi solusi peningkatan gizi masyarakat dan penggerak ekonomi UMKM lokal, kini justru terseret dalam pusaran perdebatan yang semakin panas.
Massa menyampaikan empat tuntutan utama: mendukung keberlanjutan MBG, memperbaiki tata kelola program, memperluas keterlibatan UMKM lokal, dan menolak politisasi negatif yang dinilai dapat merusak kepercayaan publik terhadap program tersebut.
Namun aksi ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa program yang seharusnya menyatukan kepentingan rakyat justru memunculkan kubu-kubu yang saling berhadapan?
Di satu sisi, pendukung MBG menilai program ini harus dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan jutaan masyarakat. Mereka khawatir serangan politik yang terus menerus akan menghambat implementasi dan mengorbankan kelompok yang seharusnya menjadi penerima manfaat.
Di sisi lain, kritik terhadap MBG juga terus menguat. Berbagai pihak menyoroti aspek transparansi, efektivitas penggunaan anggaran, hingga mekanisme pelaksanaan di lapangan. Bagi mereka, kritik bukan bentuk penolakan, melainkan bagian dari kontrol publik agar program berjalan sesuai tujuan.
Di sinilah perdebatan mulai memanas.
Ketika kritik dianggap sebagai upaya menjatuhkan program, dan dukungan dianggap sebagai pembelaan tanpa syarat, ruang diskusi publik beresiko berubah menjadi arena pertarungan politik. Akibatnya, substansi yang seharusnya menjadi fokus utama justru tenggelam di tengah perang narasi.
Aksi di depan Pemkab Karawang menjadi gambaran nyata bahwa MBG kini bukan sekedar program pemerintah. Program ini telah menjelma menjadi isu publik yang menyentuh banyak kepentingan: pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, hingga politik.
Pertanyaan yang kini bergema bukan lagi soal setuju atau tidak setuju terhadap MBG.
Yang menjadi sorotan adalah: apakah semua pihak benar-benar sedang memperjuangkan kepentingan rakyat, atau justru sibuk mempertahankan kepentingan kelompok masing-masing?
Satu hal yang sulit dibantah, suara yang muncul dari Karawang menunjukkan bahwa masyarakat tidak ingin program yang dianggap bermanfaat bagi rakyat menjadi korban tarik menarik kepentingan. Mereka mendukung keberlanjutan program, tetapi pada saat yang sama menuntut perbaikan, transparansi, dan pengawasan yang ketat.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan perang narasi.
Rakyat membutuhkan hasil nyata. Jika MBG memang untuk rakyat, maka yang harus menjadi pusat perhatian bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang mampu memastikan program itu benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

