
Karawang – Arus investasi yang terus membanjiri Kabupaten Karawang kembali memunculkan ironi yang menyakitkan. Di tengah menjamurnya pabrik-pabrik raksasa yang digadang-gadang mampu menyerap ribuan tenaga kerja, banyak warga lokal justru mengaku semakin sulit memperoleh pekerjaan di kampung halamannya sendiri.
Keluhan tersebut disampaikan mantan Kepala Dusun Desa Wanajaya, Andrew, dan Sekretaris Desa Wanajaya, Hendar Rudianto, dalam sebuah dialog yang beredar di media sosial. Keduanya mempertanyakan manfaat nyata kehadiran kawasan industri bagi masyarakat yang selama ini telah merelakan lahannya beralih fungsi menjadi kawasan pabrik.
Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, kini dikelilingi kawasan industri besar. Di antaranya proyek pabrik baterai kendaraan listrik PT CATL, serta sejumlah perusahaan lain yang dikabarkan akan segera beroperasi.
Namun, menurut Andrew, hingga kini masyarakat mengaku belum memperoleh informasi rekrutmen tenaga kerja secara terbuka melalui pemerintah desa. Akibatnya, warga sekitar merasa kehilangan kesempatan untuk bersaing mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang berdiri di wilayah mereka sendiri.
“Kalau memang syaratnya lulusan SMA untuk bagian produksi, seharusnya warga sekitar juga punya kesempatan. Tapi kenyataannya sangat sulit masuk,” ujar Andrew, Jumat (26/6/2026).
Tak hanya itu, Andrew juga menyoroti dugaan masih maraknya praktik percaloan tenaga kerja yang disebut menjadi momok bagi pencari kerja.
Menurutnya, masyarakat kerap mendengar adanya oknum yang menawarkan jalan pintas masuk perusahaan dengan meminta sejumlah uang dalam nominal yang tidak sedikit.
“Katanya harus bayar dengan nominal yang besar supaya bisa diterima kerja. Ini sangat menyakitkan masyarakat,” tegasnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Desa Wanajaya, Hendar Rudianto, menilai kondisi tersebut bertolak belakang dengan pengorbanan masyarakat yang telah kehilangan lahan pertanian dan permukiman akibat ekspansi kawasan industri.
Menurutnya, kehadiran investasi seharusnya membawa kesejahteraan bagi warga sekitar, bukan justru membuat mereka menjadi penonton di tanah sendiri.
“Masyarakat sudah rela lahannya berubah menjadi kawasan industri. Harusnya anak-anak mereka bisa bekerja di pabrik itu, jangan malah jadi penonton di kampung sendiri,” katanya.
Hendar menyebut, Desa Wanajaya saat ini memiliki tiga kawasan industri besar dengan sedikitnya tujuh perusahaan yang akan segera beroperasi. Namun, tingginya angka pengangguran di desa tersebut masih menjadi persoalan yang terus dikeluhkan masyarakat.
Karena itu, Andrew dan Hendar meminta perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat, Dinas Ketenagakerjaan, DPRD, hingga DPR RI agar sistem rekrutmen tenaga kerja di kawasan industri Karawang dilakukan secara transparan, terbuka, dan memberikan prioritas kepada masyarakat sekitar.
Keduanya juga menyatakan dukungan terhadap komitmen Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, dalam memberantas praktik percaloan tenaga kerja.
“Bantu kami agar warga lokal tidak terus menjadi penonton. Jangan sampai pabrik berdiri di kampung kami, tetapi yang bekerja justru lebih banyak orang dari luar. Berantas calo tenaga kerja agar masyarakat bisa merasakan manfaat investasi,” tutup mereka.
Keluhan ini kembali memunculkan pertanyaan besar yang selama ini menjadi perbincangan publik: untuk siapa sebenarnya investasi besar di Karawang jika masyarakat yang terdampak langsung justru masih kesulitan memperoleh pekerjaan?
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari perusahaan-perusahaan yang disebut maupun instansi terkait mengenai keluhan tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebutkan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penulis: Alim

