Lapas Karawang Sulap Warga Binaan Jadi SDM Siap Kerja, Laskar Farm Jadi Motor Ketahanan Pangan Nasional

0
Caption: Lapas Karawang Sulap Warga Binaan Jadi SDM Siap Kerja, Laskar Farm Jadi Motor Ketahanan Pangan Nasional

Karawang – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang terus membuktikan bahwa pembinaan warga binaan tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi dan ketahanan pangan. Melalui program Laskar Farm, Lapas Karawang mengembangkan sistem pertanian, peternakan, dan perikanan yang terintegrasi sebagai bekal keterampilan bagi warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, ekonomi hijau, dan pemberdayaan sumber daya manusia.

“Laskar Farm kami bangun dengan konsep pembinaan menuju kemandirian. Kami ingin warga binaan keluar dari lapas bukan hanya bebas, tetapi memiliki keterampilan dan siap bekerja di tengah masyarakat,” ujar Ma’ruf, Selasa (7/7/2026).

Saat ini, Lapas Karawang mengelola lahan pertanian seluas 1,7 hektare yang ditanami padi varietas Inpari 32, jagung, dan singkong. Hasil panen padi ditargetkan mencapai 10 ton per hektare, sementara jagung dan singkong dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak sehingga mampu menekan biaya produksi.

Di sektor peternakan, Lapas Karawang membudidayakan 1.000 ekor ayam kampung unggul, domba, dan sapi melalui skema kemitraan dengan investor. Seluruh proses pemeliharaan dilakukan oleh warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan sehingga mereka memiliki pengalaman kerja nyata.

Tak hanya itu, sektor perikanan juga dikembangkan dengan membudidayakan sekitar 20 ribu ekor ikan nila, serta ikan patin, lele, dan ikan mas yang diproyeksikan menjadi sumber pangan sekaligus meningkatkan produktivitas ekonomi lapas.

Menurut Ma’ruf, seluruh sektor tersebut saling terintegrasi. Jerami padi dimanfaatkan sebagai pakan sapi, limbah ternak diolah menjadi pupuk organik, sementara air kolam ikan digunakan untuk menyuburkan tanaman. Konsep ekonomi sirkular tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Selain menghasilkan komoditas pangan, Lapas Karawang juga mengembangkan berbagai produk UMKM hasil karya warga binaan, mulai dari telur ayam kampung, produk bakery, minuman barista, hingga aneka olahan pangan yang telah dipasarkan kepada masyarakat.

“Lapas tidak boleh hanya menjadi tempat menjalani hukuman. Kami ingin menjadi tempat lahirnya manusia yang produktif, mandiri, dan siap kembali berkontribusi bagi masyarakat,” tegas Ma’ruf.

Lapas Karawang juga aktif menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dinas teknis, dunia pendidikan, investor, organisasi masyarakat, hingga media untuk memperkuat program pembinaan.

Ke depan, Laskar Farm akan terus dikembangkan dengan penambahan kandang ayam pedaging berkapasitas 5.000 ekor, pengembangan peternakan sapi dan domba, serta peningkatan sektor perikanan dan UMKM.

Menurut Ma’ruf, keberhasilan program tersebut bukan semata mengejar hasil produksi, melainkan membangun kepercayaan diri warga binaan agar memiliki kesempatan kedua setelah bebas.

“Ketahanan pangan yang kami bangun sejatinya adalah ketahanan manusia. Ketika warga binaan memiliki keterampilan, pekerjaan, dan harapan, mereka akan lebih siap kembali menjadi bagian dari masyarakat. Itulah tujuan utama pemasyarakatan yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini