
Karawang – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang terus bertransformasi menjadi pusat pembinaan warga binaan berbasis kemandirian. Melalui konsep peternakan terintegrasi berbasis zero waste, seluruh hasil produksi dimanfaatkan secara maksimal tanpa menyisakan limbah, sekaligus menciptakan sumber ekonomi yang berkelanjutan.
Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo Hadianto, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu program unggulan yang terus dikembangkan adalah peternakan ayam petelur. Saat ini, sekitar 800 ekor ayam betina produktif dipersiapkan untuk memasuki masa puncak produksi dengan target menghasilkan sekitar 600 butir telur setiap hari.
Namun, telur-telur tersebut tidak hanya dipasarkan sebagai telur konsumsi. Lapas Karawang juga menyiapkan rumah penetasan atau DOC (Day Old Chick) yang lebih luas agar telur dapat ditetaskan menjadi anak ayam umur sehari dengan nilai jual yang lebih tinggi.
“Karena produksinya akan semakin besar, kami juga sedang mempersiapkan rumah DOC yang lebih luas agar telur-telur tersebut bisa ditetaskan. Nilai ekonominya tentu jauh lebih tinggi dibanding hanya menjual telur,” ujar Ma’ruf, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, hasil penetasan DOC mulai mendapat respons positif dari masyarakat. Sebanyak 150 ekor DOC telah dikirim kepada warga yang ingin memulai usaha peternakan skala rumah tangga.
Setelah melewati masa produktif sekitar dua tahun, ayam petelur tersebut tetap dimanfaatkan sebagai ayam afkir untuk konsumsi sehingga seluruh siklus usaha tetap memberikan nilai ekonomi.
Untuk menjaga produktivitas, kesehatan seluruh ternak dipantau secara berkala bersama tenaga pendamping dari Dinas Peternakan yang melakukan pemeriksaan rutin dua kali dalam sepekan.
Tak berhenti di sektor ayam petelur, Lapas Karawang juga tengah menyiapkan pengembangan 5.000 ekor ayam broiler melalui kerja sama dengan investor. Selain itu, pembangunan kandang domba juga akan dilakukan bersama alumni Institut Pertanian Bogor yang akan membantu penyediaan kandang sekaligus bibit ternak.
Ma’ruf menjelaskan, seluruh sistem peternakan dibangun dengan prinsip zero waste, yakni memanfaatkan seluruh limbah ternak agar memiliki nilai tambah.
“Kotoran domba kami jemur, kemudian diolah menjadi pupuk organik. Saat ini digunakan untuk penghijauan di lingkungan lapas terlebih dahulu. Jika kebutuhan internal sudah terpenuhi, baru dipasarkan kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per kemasan,” jelasnya.
Program tersebut juga menjadi sarana pembinaan keterampilan bagi warga binaan. Sedikitnya tiga warga binaan telah mendapatkan pelatihan langsung dari Dinas Peternakan mengenai teknik pengelolaan peternakan secara profesional.
Dalam pengelolaan domba, aspek kesehatan dan kebersihan menjadi perhatian utama. Pencukuran bulu dilakukan secara berkala, terutama terhadap indukan yang telah melahirkan, untuk mencegah munculnya kutu, bakteri, maupun parasit yang dapat mengganggu kesehatan ternak.
Selain peternakan, Lapas Karawang mengembangkan sistem produksi pangan terpadu yang menghubungkan sektor pertanian, perikanan, hingga pengolahan hasil. Berbagai komoditas seperti pakcoy, kangkung, terong, dan daun bawang diproduksi dari lahan di dalam lapas, sementara lahan luar dimanfaatkan untuk budidaya padi, singkong, peternakan, dan perikanan.
Di sektor perikanan, budidaya lele dengan sistem bioflok telah berjalan sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi. Sementara di bidang pengolahan hasil, Lapas Karawang telah memiliki unit bakery dan pelatihan barista yang menghasilkan berbagai produk olahan untuk dipasarkan kepada masyarakat maupun pengunjung dalam kegiatan edukasi dan studi wisata.
Melalui konsep pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengolahan hasil yang saling terintegrasi, Ma’ruf berharap Lapas Kelas IIA Karawang dapat menjadi model pembinaan warga binaan yang produktif, mandiri, sekaligus mampu menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan dan mendukung program ketahanan pangan nasional.
Penulis: Alim

