Table Top “The Living Culture” Jadi Jembatan Bisnis Pariwisata, GOKAR Travel Dorong Kolaborasi Antar Wilayah

0
Caption: Table Top “The Living Culture” Jadi Jembatan Bisnis Pariwisata, GOKAR Travel Dorong Kolaborasi Antar Wilayah

KARAWANG — Bukan sekedar bertemu dan bertukar kartu nama. Puluhan pelaku industri pariwisata memanfaatkan momentum Table Top “The Living Culture” untuk membuka pintu kerja sama baru sekaligus memperluas pasar wisata antar daerah.

Kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha pariwisata, travel agent, hotel, hingga berbagai pemangku kepentingan tersebut digelar di Mercure Hotel Karawang, Kamis (27/8/2026).

Agenda ini merupakan kolaborasi Dinas Pariwisata Sleman dan PHRI Sleman, dengan konsep business matching yang mempertemukan seller dari Kabupaten Sleman dengan buyer serta pelaku usaha perjalanan dari berbagai daerah.

Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan destinasi, paket wisata, layanan akomodasi, sekaligus membangun komunikasi bisnis secara langsung.

Puluhan pelaku usaha turut ambil bagian sebagai buyer maupun seller. Mereka diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi dan menawarkan produk secara bergantian melalui konsep round robin.

Dalam sistem tersebut, buyer berpindah dari satu meja seller ke meja lainnya sesuai urutan yang telah ditentukan panitia. Pola ini membuat pertemuan berlangsung lebih terarah sekaligus memberikan kesempatan yang relatif merata kepada peserta untuk menjajaki peluang bisnis.

Di tengah forum tersebut, Founder GOKAR Travel Nusantara, Syuhada Wisastra, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Table Top “The Living Culture”.

Menurut Syuhada, kegiatan semacam ini bukan hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga dapat menjadi jembatan terbentuknya kerja sama konkret antar pelaku industri pariwisata.

“Kami dari GOKAR Travel Nusantara sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Table Top menjadi wadah yang sangat positif untuk mempertemukan pelaku usaha pariwisata, membangun jaringan, serta membuka peluang kerja sama yang nyata,” ujar Syuhada Wisastra.

Ia menilai kekuatan industri pariwisata tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Pemerintah daerah, hotel, travel agent, asosiasi, hingga pelaku usaha harus memiliki ruang komunikasi untuk saling memperkenalkan potensi dan kebutuhan masing-masing.

Menurutnya, setiap daerah memiliki keunggulan wisata yang berbeda. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dipasarkan lebih luas dan terkoneksi dengan jaringan perjalanan wisatawan.

“Kolaborasi dan komunikasi antar wilayah menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong pertumbuhan industri pariwisata nasional. Potensi wisata yang dimiliki setiap daerah akan semakin berkembang apabila didukung dengan jaringan pemasaran dan kerja sama yang kuat,” katanya.

Bukan Sekedar Promosi

Bagi pelaku usaha perjalanan, business matching secara langsung memberikan manfaat tersendiri. Selain memperoleh informasi mengenai destinasi dan paket wisata terbaru, peserta juga dapat mengetahui pilihan akomodasi serta membuka peluang kerja sama dengan mitra dari daerah lain.

Syuhada berharap pola kolaborasi seperti ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan menjadi jaringan bisnis yang berkelanjutan.

“Semoga sinergitas seperti ini bisa terus berjalan dan semakin berkembang. Kolaborasi antara pemerintah, PHRI, travel agent, hotel, dan seluruh pelaku pariwisata tentu sangat penting. Dengan bersama-sama membangun jaringan dan saling mendukung, kami optimistis pariwisata Indonesia akan semakin maju,” tambahnya.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perjalanan dan layanan wisata, GOKAR Travel Nusantara melihat Table Top “The Living Culture” sebagai momentum positif untuk memperluas jejaring sekaligus memperkuat ekosistem industri pariwisata.

Bagi Syuhada, semakin banyak forum yang mempertemukan pelaku usaha secara langsung, semakin terbuka pula peluang terciptanya paket-paket wisata lintas daerah yang dapat memberikan pilihan lebih beragam bagi wisatawan.

Potensi Daerah Harus Menembus Pasar Lebih Luas

Kolaborasi Dinas Pariwisata Sleman dan PHRI Sleman melalui forum tersebut juga memperlihatkan pentingnya sinergi dalam memasarkan potensi wisata daerah.

Destinasi yang memiliki daya tarik tidak cukup hanya dikenal masyarakat setempat. Diperlukan jaringan pemasaran dan distribusi wisata agar potensi tersebut mampu menjangkau wisatawan dari berbagai wilayah.

Di sinilah peran travel agent, hotel, pemerintah daerah, dan pelaku industri lainnya menjadi penting.

Ketika informasi mengenai destinasi, akomodasi, transportasi dan paket wisata dapat terhubung dalam satu jaringan, peluang mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat akan semakin besar.

Karena itu, keberlanjutan forum seperti Table Top “The Living Culture” dinilai menjadi salah satu langkah positif dalam memperkuat konektivitas industri pariwisata nasional.

Syuhada pun berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dengan jangkauan peserta yang semakin luas.

“Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut, semakin banyak kolaborasi yang terbangun, dan pariwisata Indonesia semakin maju,” pungkas Syuhada Wisastra.

Dari meja ke meja, peluang bisnis dipertemukan. Dari kolaborasi, potensi wisata daerah diharapkan mampu bergerak lebih jauh menembus pasar nasional dan memberi dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini