Dari Mekanik, Wartawan hingga Pimpinan LSM: Jejak Panjang Fahmi Abdul Qodir dan Ujian Konsistensi ELANG MAS di Karawang

0
Caption: Dari Mekanik, Wartawan hingga Pimpinan LSM: Jejak Panjang Fahmi Abdul Qodir dan Ujian Konsistensi ELANG MAS di Karawang

KARAWANG — Perjalanan hidup Fahmi Abdul Qodir tidak lahir dari satu ruang. Sebelum dikenal sebagai Ketua DPC LSM ELANG MAS Kabupaten Karawang, Fahmi lebih dulu melewati dunia kerja, menjadi pengawas mekanik, hingga akhirnya terjun ke dunia jurnalistik pada sekitar tahun 2000.

Dua dekade lebih berkecimpung di lapangan membuat perjalanan Fahmi bersentuhan dengan beragam karakter, persoalan sosial, dinamika masyarakat, serta berbagai persoalan publik yang muncul di Kabupaten Karawang.

“Mulai jadi wartawan tahun 2000,” ujar Fahmi, Minggu (29/8/2026).

Bagi Fahmi, dunia jurnalistik bukan sekedar aktivitas menulis dan menyampaikan informasi. Pengalaman turun ke lapangan mempertemukannya dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari pelayanan publik, kebijakan pemerintah, pembangunan, hingga persoalan yang membutuhkan pengawasan.

Dari sinilah kemudian perjalanan Fahmi beririsan dengan dunia organisasi kemasyarakatan.

Dari Media Berlabuh di Organisasi Masyarakat

Setelah cukup lama bergelut di dunia jurnalistik, Fahmi kemudian aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Ia mengungkapkan pernah terlibat dalam kepengurusan LSM ELANG MAS sebelum akhirnya dipercaya memimpin DPC LSM ELANG MAS Kabupaten Karawang.

Bagi Fahmi, keberadaan LSM tidak seharusnya hanya sebatas papan nama, struktur kepengurusan, atau kegiatan administratif.

Organisasi masyarakat, menurutnya, harus mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan.

“LSM itu harus bisa menjadi bagian dari masyarakat, terutama dalam menyampaikan persoalan yang terjadi di lapangan,” kata Fahmi.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi organisasi yang kini dipimpinnya.

Sebab, ketika sebuah LSM mengatasnamakan kepentingan masyarakat, maka tuntutan publik terhadap organisasi tersebut juga semakin besar.

Keberanian menyampaikan kritik tentu penting. Namun, keberanian tersebut harus berjalan beriringan dengan data, akurasi, independensi, serta kesediaan memberikan ruang klarifikasi kepada pihak yang menjadi sorotan.

Media dan LSM, Dua Dunia yang Bertemu di Ruang Publik

Media dan organisasi kemasyarakatan memang memiliki fungsi yang berbeda. Namun, keduanya memiliki satu titik temu, yakni kepentingan publik.

Media memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada masyarakat. Sementara LSM dapat menjalankan fungsi kontrol sosial, mengawal aspirasi, serta mendorong perhatian terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Ketika kedua pengalaman tersebut berada dalam satu perjalanan hidup, tantangannya tentu tidak sederhana.

Pengalaman Fahmi sebagai wartawan selama lebih dari dua dekade menjadi modal dalam memahami persoalan di lapangan. Namun, pengalaman tersebut sekaligus membawa tanggung jawab yang lebih besar ketika diterapkan dalam aktivitas organisasi masyarakat.

Setiap persoalan yang dibawa ke ruang publik idealnya tidak berhenti pada informasi sepihak.

Dokumen, data, saksi, kronologi, serta konfirmasi dari pihak-pihak terkait menjadi bagian penting agar kritik tetap berada dalam koridor informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, kontrol sosial tidak berubah menjadi penghakiman, sementara kritik tetap dapat menjadi instrumen untuk mendorong perbaikan.

Lima Tahun ELANG MAS dan Ujian Konsistensi

Perjalanan DPC LSM ELANG MAS Kabupaten Karawang disebut telah berlangsung sekitar lima tahun, dengan kepemimpinan Fahmi yang dikaitkan dengan periode 2022 hingga 2026.

Lima tahun tentu bukan waktu yang singkat.

Bagi sebuah organisasi masyarakat, bertambahnya usia bukan semata soal eksistensi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana organisasi tersebut mempertahankan konsistensi ketika berhadapan dengan berbagai persoalan.

Publik tentu akan bertanya:

Seberapa berani ELANG MAS mengkritik ketika menemukan persoalan?

Apakah sikap kritis tetap dipertahankan ketika persoalan menyangkut pihak yang memiliki pengaruh atau kekuasaan?

Dan apakah setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat telah melewati proses verifikasi serta konfirmasi yang memadai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan semata kritik, melainkan bagian dari konsekuensi ketika sebuah organisasi mengambil posisi sebagai salah satu unsur kontrol sosial masyarakat.

Semakin sering sebuah organisasi tampil di ruang publik, semakin besar pula tuntutan agar setiap langkahnya dapat dipertanggungjawabkan.

Bukan Sekedar Nama di Papan Organisasi

Perjalanan Fahmi Abdul Qodir dari dunia mekanik, menjadi pengawas, kemudian mengenal jurnalistik sekitar tahun 2000, terlibat di sejumlah media, hingga akhirnya dipercaya memimpin organisasi masyarakat menunjukkan sebuah perjalanan yang panjang.

Namun, perjalanan tersebut kini memasuki fase yang berbeda.

Jika dahulu Fahmi bekerja membawa identitas media, kini ia membawa nama organisasi masyarakat.

Di titik inilah pengalaman sekaligus integritas menjadi penting.

Menjadi bagian dari media berarti memiliki tanggung jawab terhadap informasi.

Menjadi bagian dari organisasi masyarakat berarti memiliki tanggung jawab terhadap aspirasi.

Dan ketika pengalaman jurnalistik tersebut dibawa ke dalam organisasi kemasyarakatan, tuntutan terhadap akurasi, keberanian, independensi, serta keberpihakan pada kepentingan publik menjadi semakin besar.

Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menjadi penilai.

Bukan berdasarkan seberapa keras sebuah organisasi bersuara, melainkan berdasarkan seberapa kuat data yang dibawa, seberapa konsisten persoalan dikawal, seberapa terbuka terhadap klarifikasi, dan seberapa jauh perjuangannya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Perjalanan Fahmi telah dimulai lebih dari dua dekade lalu.

Kini, tantangan terbesarnya bukan lagi sekedar membuktikan dari mana ia berasal, tetapi membuktikan sejauh mana pengalaman panjang tersebut mampu diterjemahkan menjadi kiprah nyata ELANG MAS dalam mengawal persoalan masyarakat Kabupaten Karawang.

Sebab pada akhirnya, organisasi masyarakat tidak hanya dinilai dari keberaniannya berbicara.

Ia akan dinilai dari apa yang diperjuangkan, bagaimana cara memperjuangkannya, dan apa yang dirasakan masyarakat dari perjuangan tersebut.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini