KARAWANG — Momentum Milangkala Desa Purwamekar ke-44 tidak hanya menjadi perayaan hari jadi desa, tetapi juga menjadi ruang untuk meneguhkan kembali semangat kepedulian sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Salah satu bentuk kepedulian tersebut diwujudkan Pemerintah Desa Purwamekar, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, melalui pemberian santunan kepada 404 anak yatim.
Kepala Desa Purwamekar, Emi Fitria, menegaskan bahwa santunan tersebut bukan sekedar kegiatan seremonial yang selesai bersamaan dengan berakhirnya rangkaian Milangkala Desa Purwamekar.
Menurutnya, kepedulian terhadap anak yatim harus menjadi perhatian yang berkelanjutan. Karena itu, ia memastikan sebanyak 404 penerima santunan tersebut tetap akan mendapatkan perhatian setelah momentum milangkala berakhir.
“Jumlah santunannya 404 orang. Setelah milangkala, insya Allah tetap kita akan santuni 404 orang, tidak akan dikurangi,” tegas Emi, Minggu (6/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi Emi, kegiatan sosial bukan sekedar bagian dari acara tahunan. Lebih dari itu, santunan merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Bahkan, Emi membuka kemungkinan adanya penambahan jumlah penerima santunan. Terutama bagi anak yatim yang sebelumnya belum masuk dalam pendataan dan kini telah memasuki jenjang pendidikan SMP.
Ia menyadari bahwa data penerima manfaat sangat mungkin masih belum sepenuhnya sempurna. Karena itu, evaluasi dan pendataan kembali dinilai penting agar tidak ada anak yatim yang luput dari perhatian pemerintah desa.
“Barangkali ada yang terlewat. Mudah-mudahan nanti masih bisa kita perhatikan,” katanya.
Jabatan Bisa Berakhir, Manfaat Jangan Ikut Berhenti
Pesan yang disampaikan Emi Fitria dalam momentum Milangkala Desa Purwamekar ke-44 tersebut menjadi bagian dari refleksi panjang perjalanan pengabdiannya sebagai kepala desa.
Di balik rutinitas pemerintahan, pelayanan masyarakat, pembangunan, serta berbagai persoalan yang dihadapi setiap hari, seorang kepala desa tetaplah manusia biasa.
Ada rasa lelah. Ada kekhawatiran. Ada kehilangan. Namun di tengah semua itu, terdapat tanggung jawab untuk tetap hadir dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Bagi Emi, ketika rasa lelah datang, ibadah menjadi tempat untuk kembali menguatkan diri. Ketika kehilangan hadir, doa menjadi jalan untuk menerima. Sementara ketika melihat berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, kepedulian menjadi tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan.
Sebab, menurutnya, pengabdian tidak semata-mata dapat diukur dari berapa lama seseorang duduk di kursi kepala desa.
Pengabdian justru lebih bermakna ketika keberadaan seorang pemimpin mampu memberikan manfaat dan menghadirkan kepedulian yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Jabatan memiliki batas waktu. Namun, kebaikan tidak mengenal masa jabatan.
Suatu hari nanti, nama seorang pemimpin mungkin tidak lagi tercantum dalam struktur pemerintahan. Akan tetapi, jika selama masa pengabdiannya ia mampu meninggalkan kepedulian, membantu masyarakat yang membutuhkan, memperhatikan anak-anak yatim, serta ikut menjaga masa depan generasi muda, maka jejak pengabdiannya akan tetap hidup di tengah masyarakat.
Dari halaman Kantor Desa Purwamekar dalam momentum Milangkala ke-44, pesan itu kembali menemukan maknanya.
Memimpin bukan sekedar tentang bertahan di kursi kekuasaan. Memimpin adalah tentang bagaimana tetap hadir, peduli, dan bermanfaat ketika masyarakat membutuhkan.
Dan bagi 404 anak yatim yang mendapatkan santunan, kepedulian itu bukan hanya angka dalam sebuah kegiatan. Ia adalah pesan bahwa masih ada tangan yang ingin membantu, masih ada perhatian yang diberikan, dan masih ada harapan yang harus terus dijaga.
Penulis: Alim


