BANDUNG BARAT — Di tengah gaung pembangunan dan semangat mewujudkan Jawa Barat yang disebut semakin “istimewa”, masih ada warga di pelosok Kabupaten Bandung Barat yang setiap hari harus berjibaku melewati jalan berbatu, berlubang dan belum beraspal.
Kondisi tersebut dikeluhkan warga Dusun Ismat, RT 01 RW 13, Desa Cilangsari, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Bagi masyarakat setempat, jalan rusak bukan sekedar persoalan infrastruktur, melainkan menyangkut langsung denyut kehidupan dan perekonomian warga.
Jalan tersebut menjadi akses utama yang digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari membawa hasil kebun, mengangkut kebutuhan sehari-hari, pergi bekerja, mengantar anak sekolah, hingga mendapatkan pelayanan kesehatan.
Setiap hari kendaraan roda dua, kendaraan pengangkut hasil bumi, bahkan truk harus melintasi jalan dengan permukaan yang dipenuhi batu dan lubang.
Saat hujan turun, persoalan menjadi semakin berat. Jalan yang sebelumnya sudah sulit dilalui berubah menjadi akses yang semakin menyulitkan aktivitas masyarakat.
Warga tetap berjalan, kendaraan tetap melintas, roda ekonomi tetap dipaksa berputar meski kondisi jalannya jauh dari kata layak.
Kondisi inilah yang membuat warga mempertanyakan sejauh mana pemerataan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat di pelosok.
Warga berharap perhatian pemerintah tidak hanya tertuju kepada kawasan perkotaan atau pusat-pusat ekonomi, tetapi juga menyentuh wilayah pedesaan yang menjadi penopang sektor pertanian dan perekonomian masyarakat.
Ironisnya, di balik kondisi jalan yang memprihatinkan tersebut, Dusun Ismat justru menyimpan potensi alam yang dinilai cukup besar.
Wilayah pedesaan itu dikenal memiliki suasana sejuk, hamparan hijau, serta panorama alam yang masih asri dan kerap diselimuti kabut. Jika akses jalan diperbaiki, warga menilai kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kabupaten Bandung Barat.
Perbaikan infrastruktur diyakini tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru.
Hasil pertanian dan perkebunan akan lebih mudah dipasarkan. Akses wisatawan menjadi lebih terbuka. Pelaku usaha kecil dapat tumbuh dan masyarakat sekitar berpeluang memperoleh sumber pendapatan tambahan.
Dengan kata lain, jalan yang baik bukan hanya beton, aspal dan batu. Jalan adalah urat nadi ekonomi masyarakat.
Karena itu, warga Dusun Ismat menyampaikan harapan secara terbuka kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail agar kondisi tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah.
Warga mengingatkan kembali semangat pembangunan melalui jargon “Jabar Istimewa” serta gagasan “lembur diurus, kota ditata.”
Bagi warga, kalimat tersebut akan memiliki makna apabila benar-benar diwujudkan hingga ke pelosok desa.
Masyarakat tidak meminta jalan mewah. Mereka hanya menginginkan akses yang layak, aman dan dapat digunakan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
“Jalan leucir” bagi warga bukan sekedar jalan yang mulus.
Jalan leucir adalah jalan menuju sekolah.
Jalan menuju pelayanan kesehatan.
Jalan membawa hasil kebun ke pasar.
Jalan menuju tempat kerja.
Dan pada akhirnya, jalan menuju kesejahteraan.
Kini, harapan itu kembali diarahkan kepada pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Apakah keluhan warga Dusun Ismat akan berhenti sebagai suara dari pelosok, atau benar-benar ditindaklanjuti menjadi pembangunan nyata?
Sebab bagi masyarakat, pembangunan tidak boleh hanya terlihat dari pusat kota.
Lembur harus benar-benar diurus. Pelosok desa jangan sampai dilupakan.
Jalan leucir, ekonomi lancar, wisata berkembang, warga sejahtera.
Warga Dusun Ismat kini menunggu satu hal sederhana: datangnya perhatian pemerintah dan hadirnya pembangunan yang nyata.


