
KARAWANG — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan zaman, seni tradisi Sunda menghadapi tantangan besar untuk tetap hidup dan dikenal generasi muda. Namun, harapan itu kini tumbuh dari panggung kecil di Kabupaten Karawang.
Namanya Kharisma M. Suhana, siswa SD IT Lampu Iman Adiarsa Karawang. Di usia yang masih belia, Kharisma telah menunjukkan kecintaannya terhadap seni Wayang Golek Sunda dengan meraih Juara 1 Lomba Dalang Cilik Tingkat Kabupaten Karawang Tahun 2026.
Minggu, 13 September 2026, Kharisma kembali tampil dalam pentas budaya di halaman Kecamatan Purwasari, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-393 Tahun 2026.
Bagi Kharisma, tampil sebagai dalang bukan sekedar naik ke atas panggung untuk menghibur penonton. Lebih dari itu, ia membawa misi besar: menjaga api budaya Sunda agar tetap menyala dan tidak padam diterpa zaman.
Karawang yang kini berusia 393 tahun ibarat pohon besar. Akarnya telah menancap kuat, batangnya berdiri kokoh, dan regenerasi menjadi tunas yang menentukan apakah pohon itu akan terus tumbuh.
Kharisma adalah salah satu tunas tersebut.
Sebagai Dalang Cilik Karawang, ia ingin membuktikan bahwa Wayang Golek tidak harus kalah oleh gawai, media sosial, maupun hiburan digital.
“Wayang Golek tidak akan mati selama masih ada anak-anak muda yang mau belajar dan memegang gagang wayang,” menjadi semangat yang dibawa Kharisma dalam menjaga warisan budaya Sunda.
Dari Panggung Wayang, Merawat Jati Diri Sunda
Wayang Golek bukan sekedar boneka kayu yang dimainkan di atas panggung. Di dalamnya terdapat sejarah, filosofi, pendidikan karakter, humor, kritik sosial hingga nilai-nilai kehidupan.
Dalam setiap lakon, masyarakat mengenal tokoh-tokoh seperti raja yang bijaksana, patih yang cerdik, hingga para punakawan seperti Cepot, Dawala dan Astrajingga yang mampu menghibur sekaligus menyampaikan pesan kehidupan.
Semangat itu sejalan dengan filosofi Sunda “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” — saling mengasah, saling mengasihi dan saling mengasuh.
Kharisma pun terus belajar dari para sesepuh dan guru padalangan. Ia mendapat bimbingan dari Ki Dalang Iman R. dari Karawang, sebagai bagian dari proses panjang untuk memahami seni pedalangan.
Bagi Kharisma, belajar budaya bukan berarti hidup di masa lalu. Justru budaya harus dirawat agar mampu berjalan bersama zaman.
Ada pula filosofi yang menjadi semangatnya:
“Hirup kudu kawas wayang, boga pakem tapi bisa ngalawak.”
Hidup harus memiliki prinsip dan aturan, tetapi tetap luwes, menghibur dan membumi.
Tiga Misi Besar Dalang Cilik Karawang
Kharisma menyadari bahwa menjadi dalang cilik bukan sekedar prestasi pribadi. Ada tanggung jawab budaya yang lebih besar di baliknya.
Setidaknya ada tiga misi yang ingin ia jalankan.
Pertama, melestarikan.
Menjaga agar Wayang Golek Sunda tidak tergilas perkembangan zaman dan tetap memiliki tempat di hati generasi muda.
Kedua, merawat.
Mempelajari pakem, suluk, cengkok dan berbagai kekayaan seni pedalangan agar tidak hilang ditelan zaman.
Ketiga, mengangkat.
Membawa nama Wayang Golek Karawang dan Jawa Barat agar semakin dikenal, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga hingga panggung internasional.
Karawang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Namun bagi Kharisma, Karawang tidak boleh hanya dikenal karena hasil pertaniannya.
Karawang juga harus dikenal karena budayanya.
Dari tanah yang subur itu, ia berharap lahir generasi seniman dan dalang yang mampu mengharumkan nama daerah.
Pesan untuk Bupati, Sesepuh Budaya dan Warga Karawang
Kharisma juga menyampaikan pesan kepada Bupati Karawang, para sesepuh budaya, PEPADI, jajaran Forkopimcam Purwasari serta seluruh masyarakat Karawang.
Menurutnya, menjaga budaya adalah tugas bersama. Regenerasi harus terus dilakukan agar kesenian tradisional tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup dan berkembang.
Ia pun memiliki visi untuk menjadi bagian dari generasi penerus yang mampu menjaga, merawat dan mengharumkan seni Wayang Golek Sunda di tingkat nasional hingga internasional.
Harapannya tidak kecil.
Suatu hari nanti, nama Kharisma M. Suhana bukan hanya terdengar di panggung peringatan Hari Jadi Kabupaten Karawang. Ia ingin membawa Wayang Golek Karawang ke panggung yang lebih luas, dari Taman Mini Indonesia Indah, festival budaya ASEAN, hingga panggung dunia.
Sebab baginya, ketika sebuah generasi menjaga budayanya, sesungguhnya mereka sedang menjaga jati diri bangsanya.
“Ulah poho ka asal, supaya hirup salamet dunya akherat.”
Jangan pernah melupakan asal-usul, agar kehidupan tetap selamat di dunia dan akhirat.
Di tangan Kharisma dan generasi muda lainnya, harapan itu masih menyala.
Api Wayang Golek Sunda boleh diterpa angin. Boleh dihantam badai zaman. Tetapi selama masih ada generasi yang mau menjaganya, api itu tidak akan padam.
Dirgahayu Kabupaten Karawang ke-393.
Hidup Wayang Golek Sunda.
Hidup regenerasi budaya.
Dan hidup para tunas muda yang siap menjaga warisan leluhur.
Penulis: Alim

