
PANDEGLANG — Suasana khidmat menyelimuti Majelis Ta’lim dan TPQ Al-Hijrah, Desa Curug Barang, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa (29/9/2026).
Lantunan sholawat dan Mahalul Qiyam menggema dalam rangkaian Haul Tuan Syekh Abdul Qadir Jailani dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Jamaah yang hadir tampak larut dalam suasana penuh penghayatan, mengiringi setiap lantunan dengan rasa hormat dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Mengusung tema “Ngalap Berkah Meraih Syafaat”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang keteladanan para ulama sekaligus memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Saat Mahalul Qiyam dilantunkan, suasana majelis semakin terasa syahdu. Lantunan yang menggema seolah mengajak jamaah untuk sejenak meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan dan kembali mengingat nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ustad H. Dede Hanapi, sementara lantunan ayat suci Al-Qur’an dibawakan oleh Ustadzah Gina Mahfudoh.
Ustad H. Dede Hanapi yang merupakan dewan pembina sekaligus pemilik Majelis Ta’lim Al-Hijrah juga tampil memberikan ceramah keagamaan. Pesan yang disampaikan mengingatkan jamaah agar momentum haul dan maulid tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial maupun perayaan tahunan semata.
Lebih dari itu, nilai-nilai yang disampaikan diharapkan dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ratna atau yang akrab disapa Nana, salah satu pengurus Majelis Ta’lim Al-Hijrah, turut berperan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Bagi Majelis Ta’lim dan TPQ Al-Hijrah, pelaksanaan haul dan maulid memiliki makna yang lebih luas. Selain menjadi momentum keagamaan, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta menghidupkan nilai-nilai keteladanan ulama di tengah masyarakat.
Tema “Ngalap Berkah Meraih Syafaat” menjadi pesan utama yang mengiringi seluruh rangkaian kegiatan. Jamaah diajak untuk terus memperkuat keimanan, memperbanyak sholawat, memperdalam kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Antusiasme masyarakat yang hadir juga menunjukkan bahwa tradisi keagamaan seperti haul dan maulid masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat Desa Curug Barang dan sekitarnya.
Namun, makna terbesar dari kegiatan tersebut diharapkan bukan hanya terlihat dari ramainya jamaah atau khidmatnya suasana saat acara berlangsung.
Ada pesan yang lebih dalam untuk dibawa pulang: mencintai Rasulullah SAW, menghormati ulama, mempererat persaudaraan sesama umat, serta menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebab ketika lantunan sholawat telah berhenti dan majelis kembali sunyi, nilai dari sebuah peringatan justru diuji dalam kehidupan sehari-hari.
“Ngalap Berkah Meraih Syafaat” akhirnya bukan hanya menjadi tema sebuah kegiatan, melainkan pesan spiritual agar semangat bersholawat, kecintaan kepada Rasulullah SAW, dan keteladanan akhlak beliau terus hidup di tengah masyarakat.
Dari Curug Barang, gema sholawat itu pun diharapkan tidak berhenti di dalam majelis, tetapi terus mengalir menjadi kebaikan dalam kehidupan jamaah dan masyarakat sekitarnya.

