Tak Banyak yang Tahu, Lagu “Nenekku Pahlawanku” Ternyata Terinspirasi dari Tragedi Rawagede

0
Caption: Tak Banyak yang Tahu, Lagu “Nenekku Pahlawanku” Ternyata Terinspirasi dari Tragedi Rawagede

KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | Tak banyak yang tahu bahwa lagu “Nenekku Pahlawanku”, ciptaan Apoy, gitaris grup musik Wali Band, ternyata lahir dari kisah nyata yang sangat personal dan menyentuh. Lagu tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan wujud penghormatan seorang cucu kepada leluhurnya yang menjadi korban salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia: Pembantaian Rawagede.

Cerita ini bermula dari perjalanan Apoy menelusuri jejak kakeknya yang selama puluhan tahun tidak diketahui rimbanya. Ia berkali-kali datang ke Makam Pahlawan Rawagede yang terletak di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, demi mencari tahu kebenaran tentang nasib sang kakek.

Menurut penuturan Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede, Apoy akhirnya mengetahui bahwa sang kakek ternyata termasuk dalam ratusan korban yang gugur dalam tragedi berdarah tersebut. “Ia datang dalam diam, menyusuri satu per satu nisan yang ada. Saat tahu nama kakeknya tercantum di salah satu batu makam, kami pun ikut terdiam haru,” kenang Sukarman, Jumat (4/7).

Peristiwa Pembantaian Rawagede terjadi pada 9 Desember 1947, ketika tentara Belanda menyerbu desa tersebut dalam operasi militer. Sedikitnya 431 warga sipil dibantai secara brutal karena diduga melindungi para pejuang kemerdekaan. Hingga kini, tragedi ini dikenang sebagai luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.

Yang membuat cerita ini semakin menyentuh adalah sosok nenek Apoy, seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup tanpa pernah mengetahui secara pasti nasib suaminya. Ia menunggu bertahun-tahun dalam ketidakpastian, sampai akhirnya jasad sang suami ditemukan dan dimakamkan di Rawagede.

“Itulah asal muasal lagu Nenekku Pahlawanku diciptakan. Sebuah kekaguman Apoy terhadap neneknya, seorang perempuan yang baginya adalah istri dari seorang pahlawan,” ujar Sukarman.

Lagu ini menjadi bentuk penghormatan Apoy tidak hanya kepada keluarganya, tetapi juga kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan dalam tragedi Rawagede. Dalam lirik dan nadanya, tersimpan kepedihan, ketabahan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.

Kisah ini disampaikan langsung oleh Sukarman kepada penulis beberapa tahun silam, dalam suasana penuh haru mengenang perjuangan warga Rawagede, sebuah desa kecil yang menjadi saksi bisu kekejaman kolonial dan keteguhan rakyat mempertahankan tanah airnya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini