
KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | Sebuah video berdurasi lebih dari tiga menit mendadak menghebohkan jagat maya pada Senin malam, 7 Juli 2025. Video tersebut viral di berbagai grup WhatsApp dan forum publik setelah menampilkan seorang pria bernama Muhammad Wanda Surtana, yang mengaku berasal dari trah Cirebon dan kini tinggal di RT 2 RW 10, Kelurahan Margahayu, Kota Bekasi.
Dalam video itu, Wanda melancarkan kritik keras dan pedas terhadap sosok yang ia sebut sebagai “Kang Deddy”. Ia menyebut nama itu berulang kali dengan nada tinggi, seolah menyasar tokoh publik ternama di Jawa Barat, meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai identitas sebenarnya dari “Kang Deddy” yang dimaksud.
“Jangan sombong, Kang Deddy! Konten Anda itu kasar, tidak mencerminkan welas asih, apalagi kebijaksanaan,” semprot Wanda dalam video yang sarat emosi.
Wanda menguliti berbagai kebijakan dan sikap publik “Kang Deddy”, mulai dari penanganan kasus pabrik tahu, penggusuran pedagang kecil, penanganan peredaran tramadol dan eksimer, hingga tuduhan paling tajam: sikap anti Islam.
Dalam orasinya, Wanda menyebut penggusuran pedagang di bantaran sungai sebagai tindakan arogan tanpa solusi. Ia menuntut agar kebijakan semacam itu disertai relokasi, pemberian modal, dan fasilitas dasar, bukan hanya aksi panggung demi konten.
“Kalau cuma buat konten tapi rakyat menderita, itu bukan pemimpin, itu penjilat kamera!” ujarnya lantang.
Ia juga menuding lemahnya penindakan terhadap peredaran narkoba sebagai bentuk pembiaran dan menyindir aparat: “Kalau polisi dan Bhabinsa tidak bisa kerja, kirim saja ke Papua! Banyak aparat yang lebih sigap di sana!”
Namun kritik paling menyengat muncul ketika Wanda menuduh “Kang Deddy” membenci Islam. Ia menyerang kebijakan penggantian nama RS “Al-Ihsan” menjadi “Welas Asih” sebagai bentuk “penghapusan simbol keislaman”. Wanda bahkan menuduh Kang Deddy lebih mengagungkan ajaran Sunda Wiwitan ketimbang nilai-nilai Islam yang diwariskan Sunan Gunung Jati.
“Anda benci Islam, itu nyata! Tobat sebelum Allah turunkan azab! Sejarah tidak akan melupakan pengkhianat Islam di tanah para wali,” tegasnya penuh amarah.
Di akhir video, Wanda mengajak Kang Deddy untuk bertobat dan kembali ke jalan Islam, sambil menyebutkan silsilah dan nilai-nilai Islam yang pernah mengakar kuat di tanah Cirebon.
Respon Publik Terbelah
Video itu langsung menyulut perdebatan sengit di media sosial. Sebagian netizen mengecam Wanda karena dianggap menyerempet isu SARA dan menyulut sentimen keagamaan. Namun tak sedikit pula yang menyebut pernyataan tersebut sebagai jeritan hati rakyat kecil yang kecewa dengan gaya kepemimpinan yang lebih sibuk membuat konten ketimbang solusi nyata.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak “Kang Deddy”. Meski spekulasi kuat menyebut tokoh tersebut adalah figur publik dengan nama depan “Deddy” yang belakangan ini banyak tampil di media sosial, namun tidak ada konfirmasi identitas dari pihak terkait.
Pengamat Peringatkan Potensi Ujaran Kebencian
Pengamat komunikasi politik, Dr. Andi Mulyawan, menilai bahwa fenomena ini harus disikapi serius. “Kritik boleh, bahkan perlu. Tapi ketika menyentuh isu agama dan personal, itu berisiko memecah belah dan memantik konflik horizontal. Klarifikasi dari tokoh yang dimaksud juga penting untuk meredam spekulasi liar,” ujarnya.
Pihak kepolisian dan lembaga pengawas konten digital juga diminta turun tangan mengawasi peredaran video tersebut. Jika terbukti memuat unsur fitnah, hoaks, atau ujaran kebencian, langkah hukum patut dipertimbangkan untuk mencegah efek domino di tengah masyarakat.
Penulis: Alim

