BEKASI | ULASBERITA.CLICK | Di tengah megahnya pembangunan dan sorotan kemajuan zaman, masih ada sudut-sudut kehidupan yang menyimpan kisah pilu. Salah satunya datang dari Kampung Pulokukun, Desa Banjarsari, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Di sanalah sepasang lansia, Nalam (70) dan istrinya Sarum (65), hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak, seolah-olah terlupakan oleh waktu dan kebijakan.
Puluhan tahun sudah pasangan ini bertahan di rumah tua yang nyaris roboh. Dinding yang rapuh, atap berlubang yang tak mampu melindungi dari hujan, serta kamar mandi darurat yang hanya ditutup kain dan baliho bekas menjadi saksi bisu perjuangan mereka menjalani usia senja. Rumah itu lebih mirip gubuk reot daripada tempat tinggal, namun di situlah cinta dan harapan masih berusaha bertahan hidup.
“Kami ingin sekali memperbaiki rumah, tapi dari mana biayanya? Untuk makan sehari-hari saja pas-pasan,” tutur Ibu Sarum dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Sabtu (10/7).
Lebih menyayat hati, meski telah lama masuk dalam kategori miskin ekstrem, Nalam dan Sarum tak kunjung menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Seolah ada celah besar dalam perhatian dan kepedulian yang semestinya mereka dapatkan.

Warga sekitar pun tak kuasa menyembunyikan keprihatinan. Banyak yang berharap pemerintah segera membuka mata dan hati.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mereka butuh uluran tangan. Kami hanya bisa membantu sebisanya,” ucap seorang tetangga, menahan haru.
Kisah Nalam dan Sarum bukan hanya tentang kemiskinan, tetapi tentang bagaimana sebuah sistem kadang lupa menyentuh mereka yang paling membutuhkan. Ini bukan hanya soal rumah yang reyot, tapi tentang martabat manusia yang perlahan digerus oleh ketidakpedulian.
Apakah kita akan terus membiarkan mereka hidup dalam ketakutan dan kehampaan?
Kini saatnya semua pihak pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat luas turun tangan, bukan sekadar melihat, tapi bergerak. Karena di balik reruntuhan rumah itu, ada dua jiwa renta yang terus berharap: bahwa di negeri ini, masih ada kasih yang nyata.
Penulis: Alim


