
KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | MR. KiM mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin maraknya praktik rekrutmen tenaga kerja yang dijadikan ladang bisnis oleh sejumlah oknum. Ia menyebut bahwa saat ini, komoditas paling “seksi” dan sangat menguntungkan adalah bisnis tenaga kerja yang berkedok lowongan pekerjaan.
Dalam pernyataannya, MR. KiM menghimbau masyarakat Karawang agar tetap waspada dan tidak mudah tergiur janji manis dari para calo kerja. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya memberikan uang di muka kepada siapapun, sebelum adanya kejelasan pekerjaan, bahkan jika permintaan itu datang dari oknum HRD, oknum aparat desa, oknum anggota ormas/LSM, oknum wartawan, maupun oknum pejabat Disnaker.
“Memang, memberi uang bisa memuluskan jalan seseorang untuk diterima kerja. Tapi bagaimana dengan saudara-saudara kita yang orang tuanya hanya buruh tani atau tukang becak? Apakah mereka mampu menyuap seperti itu?” ujar MR. KiM, Rabu (30/7).
Ia menilai, praktik semacam ini justru menambah ketimpangan sosial, memperparah kemiskinan, dan dalam jangka panjang dapat mendorong meningkatnya angka kriminalitas di tengah masyarakat.
Dalam kesaksiannya, MR. KiM juga menceritakan pengalaman pribadinya di masa muda, saat ia mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Sang ibu, yang berjualan kue pastel keliling, bahkan harus meminjam uang dari rentenir demi membantunya. Namun, pinjaman tersebut justru berujung pada penjualan rumah dan lilitan utang keluarga.
“Saya menulis ini bukan karena saya sudah hebat atau mapan secara ekonomi. Saya hanya ingin masyarakat tidak mengalami pahitnya pengalaman yang sama seperti saya dulu,” tambahnya.
Pernyataan ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak, termasuk pemerintah, untuk lebih aktif dalam mengawasi praktik-praktik percaloan tenaga kerja, dan memastikan bahwa proses rekrutmen berjalan secara adil dan transparan, tanpa membebani para pencari kerja khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Penulis: Alim

