Karawang – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang melalui Bidang Pengendalian Pencemaran dan Keanekaragaman Hayati terus menggencarkan penataan ruang terbuka hijau (RTH) di sejumlah titik. Upaya ini dilakukan dengan metode yang beragam, seperti persemaian bibit tanaman dan penanaman tanaman hias secara bertahap.
Kepala Bidang Pertamanan DLH Karawang, Dede Pram, mengungkapkan bahwa penataan RTH tidak hanya ditujukan untuk memperindah visual kawasan, tetapi juga memperhatikan aspek ekologis seperti fungsi resapan air, tampungan air hujan, serta keberlanjutan tanaman yang dikembangkan melalui proses persemaian.
“Setelah pohon tumbuh dengan baik pasca-penanaman, muncul beberapa sarang burung di titik-titik tertentu. Ini menandakan adanya peningkatan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut,” ujar Dede saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/8/2025).
Dede menyebutkan bahwa beberapa titik lokasi masih dalam tahap pengisian area kosong. Proses persemaian dilakukan melalui dua sistem, yakni stek dan biji, dengan waktu pertumbuhan sekitar tiga bulan sebelum siap tanam di lahan terbuka.
Adapun jenis tanaman yang ditanam meliputi reulia putih, reulia ungu, kembang sepatu biasa, kembang sepatu daun tricolor, bakung air mancur, beragam jenis heliconia, dan jenis tanaman hias lainnya. Penanaman dilakukan secara bertahap untuk memastikan area tertata optimal dan tanaman dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Penanaman kami lakukan rutin setiap bulan. Begitu satu tahap selesai, langsung dilanjutkan ke tahap berikutnya, agar tidak ada area yang terbengkalai terlalu lama,” jelasnya.
DLH juga mengatur pola tanam dengan sistem kotak-kotak di lahan pelataran, yang berfungsi sebagai batas alami serta struktur dasar lanskap. Selain itu, elemen alami seperti kobakan atau cekungan tanah tetap dipertahankan sebagai kolam tampungan air saat musim hujan.
“Kalau semua lahan ditutup rata, air hujan tidak bisa tertampung dan bisa menimbulkan genangan. Karena itu, kobakan yang sudah ada tetap kami pertahankan, terutama di area RTH Rengasdengklok,” tambah Dede.
Untuk mendukung pemeliharaan, jalur akses dan sistem irigasi juga telah disesuaikan agar mobil operasional serta peralatan taman dapat menjangkau lokasi. Di area persemaian, telah disediakan sistem penyiraman berbasis selang dan didampingi oleh tenaga pekerja taman yang khusus menangani kebutuhan harian tanaman.
“Kami sudah mulai menata dari sekarang. Meskipun belum sepenuhnya maksimal, namun prosesnya berjalan sesuai rencana dan menyesuaikan ukuran lahan yang tersedia,” tutupnya.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen DLH Karawang dalam menciptakan ruang terbuka hijau yang tidak hanya asri secara visual, tetapi juga memberikan manfaat ekologis yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat.


