
Karawang — Polemik distribusi pupuk subsidi kembali memanas. Setelah sebuah pemberitaan menuding seorang petani di Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, sebagai penyupplai pupuk Orea terbesar, kini muncul klarifikasi yang justru membuka persoalan lebih serius: pupuk subsidi tidak tersedia di kios desa.
H. Fahrudin, petani yang namanya diseret dalam isu tersebut, akhirnya bersuara. Ia menegaskan bahwa tuduhan dirinya menjadi penyupplai Orea adalah keliru dan tidak berdasar.
“Saya membeli Orea karena pupuk urea subsidi yang ada di Desa Mulyajaya nggak ada. Jadi saya harus cari ke kios lain,” tegas Fahrudin, Jumat (7/11/2025).
Menurutnya, petani bukan sedang mencari keuntungan, melainkan dipaksa bertahan agar tanaman padi tidak gagal panen.
Kuota Subsidi Ada. Nama Petani Ada. Tapi Barang Hilang.
Fahrudin menjelaskan, dirinya sudah terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) di Desa Kutaraja. Namun, sawahnya di wilayah itu termasuk kategori tadah hujan, sehingga pupuk urea subsidi dianggap tidak efektif.
“Kalau sawah tadah hujan dipupuk urea subsidi, hasilnya kurang maksimal. Jadi saya gunakan Orea Nitrea atau NPK Mutiara,” jelasnya.
Masalah muncul ketika pupuk subsidi yang seharusnya bisa dialihkan ke Desa Mulyajaya, tempat ia sedang melakukan pemupukan, tidak tersedia di kios.
Petani tetap diminta mengikuti prosedur RDKK, tapi pupuk subsidi yang dijanjikan tidak pernah muncul.
Isu Harga? Ini Penjelasannya
Terkait selisih harga yang dipersoalkan dalam pemberitaan sebelumnya, Fahrudin menjawab lugas:
“Harga normal Orea Rp25 ribu. Jadi Rp27 ribu karena ongkos angkut Rp200 ribu per ton.”
Ia menegaskan selisih itu bukan permainan harga, melainkan murni biaya transportasi.
Pertanyaan Besar Untuk Publik:
KE MANA PUPUK SUBSIDI ITU?
Dari klarifikasi Fahrudin, ada fakta mencurigakan yang tidak boleh diabaikan:
• Kuota pupuk subsidi ADA
• Nama petani dalam RDKK ADA
• Tapi barang di kios TIDAK ADA
Petani menuruti semua aturan, mengisi data RDKK, mengurus administrasi, mengikuti mekanisme… namun ketika pupuk dibutuhkan, mereka justru harus membeli pupuk non-subsidi.
“Pemberitaan yang menyebut saya penyupplai Orea terbesar itu tidak sesuai fakta,” tegasnya.
Ini bukan sekedar klarifikasi. Ini pertanyaan tentang hak petani dan transparansi penyaluran pupuk subsidi yang menggunakan uang negara.
Jika pupuk subsidi tidak ada di kios…
Siapa yang sebenarnya menikmati pupuk subsidi itu?
Penulis: Alim

