Jerat Pinjol Berkedok Lowongan Kerja: Anak di Karawang Jadi Korban, Ayah Nyaris Terseret Dampak Data Bantuan

0
Caption: Jerat Pinjol Berkedok Lowongan Kerja: Anak di Karawang Jadi Korban, Ayah Nyaris Terseret Dampak Data Bantuan

Karawang — Seorang anak perempuan di Dusun Gongcai, Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menjadi korban jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal yang disamarkan sebagai lowongan kerja dan perekrutan anggota. Modusnya halus, bujuk rayu datang dari media sosial, dan dampaknya menjalar hingga ke data pribadi keluarga penerima bantuan pemerintah.

Kisah ini terungkap dari percakapan haru antara sang anak dan ayahnya. Dengan suara bergetar, sang anak menceritakan awal mula tragedi digital itu, berawal dari obrolan ringan di Facebook dengan seorang teman bernama Desi.

“Desi nanya-nanya aku kerja di mana, jam berapa pulang, terus liburnya kapan,” ucap sang anak. “Katanya, kalau mau dapat uang, cari member, nanti dapat bonus.”

Dari ajakan sederhana itu, ia digiring bergabung ke sebuah grup bernama PT Melia Sehat Sejahtera, yang disebut-sebut memberi imbalan bagi anggota yang berhasil merekrut orang lain. Namun di balik sistem “bonus” tersebut tersembunyi skema penipuan pinjol, data pribadi para anggota dipakai untuk mengajukan pinjaman atas nama mereka sendiri.

“Aku disuruh ngisi nama-nama teman, terus disuruh bayar Rp150.000. Aku enggak ada uang, tapi dipaksa,” kisahnya.

Uang yang seharusnya masuk ke rekening pribadi korban justru dikirim langsung ke pihak yang mengatasnamakan “perusahaan”. “Pinjamannya Rp1,6 juta, tapi aku enggak nikmatin apa-apa. Duitnya langsung dikirim ke PT Melia, Sehat Sejahtera” ujarnya lirih.

Mendengar pengakuan itu, sang ayah tak bisa menyembunyikan amarah dan kekhawatirannya. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan sekedar penipuan finansial, tetapi juga ancaman terhadap data keluarga.

“Kamu dipinjamin HP kamu, tapi duitnya dikirim ke PT itu. Nanti data Ayah bisa kena juga. Kalau ada keluarga minjam pinjol, data bantuan Ayah bisa terganggu!” ujarnya tegas.

Ayah dan anak itu kini hidup dalam ketakutan. Ketakutan bukan hanya karena utang yang harus dibayar, tetapi juga karena data pribadi mereka mungkin telah tersebar ke jaringan pinjol ilegal. Sang anak mengaku telah digabungkan ke grup online dan diminta terus merekrut korban baru.

Belakangan, ia menemukan kebenaran pahit setelah menelusuri nama perusahaan tersebut di media sosial. “Ternyata banyak yang kena. Ada yang rugi sampai belasan juta. Aku baru tahu setelah lihat di TikTok dan YouTube,” katanya.

Kisah di Karawang ini membuka mata bahwa praktik pinjol dan perekrutan digital berwajah manis kini menjerat korban dari berbagai kalangan, terutama anak muda yang mencari kerja tambahan di tengah tekanan ekonomi.

Pemerintah dan aparat penegak hukum diminta menindak tegas jaringan penipuan digital yang memanfaatkan kelengahan publik melalui media sosial. Sementara masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada tawaran kerja online, terutama yang meminta data pribadi, uang pendaftaran, atau melibatkan aplikasi pinjaman tanpa izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini