
Karawang – Ajang Lomba Menyanyi Solo dalam rangka menyambut Hari Guru 2025 yang digelar PGRI Cabang Rengasdengklok menghadirkan banyak catatan menarik, terutama dari para juri yang menilai langsung penampilan puluhan peserta guru dari berbagai sekolah. Salah satu yang paling vokal menyampaikan evaluasi ialah Hendra, Juri 1 yang juga guru di SMPN 1 Rengasdengklok.
Di hadapan peserta, Senin (24/11/2025), Hendra membeberkan secara gamblang bagaimana proses penilaian berlangsung, mulai dari aspek teknis vokal hingga estetika panggung yang kerap menimbulkan perbedaan persepsi di antara juri.
Penilaian Tak Hanya Soal Suara Bagus
Menurut Hendra, dunia seni tak pernah bisa dipatok dalam satu ukuran tunggal. “Aspek yang kami nilai itu banyak: penghayatan, intonasi, artikulasi, lirik, tempo, ekspresi, penguasaan panggung, dan interaksi dengan penonton. Karena ini seni, subjektivitas itu pasti ada,” tegasnya.
Ia menyoroti sejumlah peserta yang mampu tampil penuh penghayatan namun masih goyah dalam intonasi dan pelafalan. “Penghayatannya bagus, sesuai lagunya. Tapi intonasi dan artikulasinya tidak jelas. Itu membingungkan juri,” ujarnya.
Perbedaan Fokus Antar juri: Lirik Jadi Sorotan
Hendra mengungkapkan bahwa tiap juri memiliki fokus berbeda. Ia mengaku tidak terlalu menitikberatkan ketepatan lirik, sementara dua juri lain, termasuk Hana, sangat selektif. “Saya tidak lihat lirik, tapi Bu Hana melihat langsung di laptop. Kalau ada yang salah lirik, nilainya langsung berkurang. Makanya nilai kami bisa sedikit berbeda,” ungkapnya.
Perbedaan pendekatan inilah yang menurutnya membuat penilaian seni tidak bisa sepenuhnya objektif.
Penguasaan Panggung dan Kebiasaan “Lihat HP”
Dalam soal penguasaan panggung, Hendra memuji sebagian peserta yang tampil percaya diri, bahkan ada yang turun ke depan panggung. “Sebetulnya itu di luar jalur, tapi namanya festival tetap kami maklumi,” katanya.
Namun ia memberi penekanan khusus pada kebiasaan peserta yang masih melihat handphone saat menyanyi. “Itu jelas mengurangi nilai. Pesan lagu harus disampaikan ke penonton, bukan ke layar.”
Beberapa peserta juga disebut kehilangan tempo pada bagian awal lagu. “Jurinya ngerti sekali. Bedanya per ketukan itu kelihatan. Tapi tidak semua juri menilai hal itu sama ketatnya,” tambahnya.
Seni Tidak Bisa Benar-Benar Objektif
Hendra menegaskan, “Nilai seni itu tidak bisa diukur kuantitatif. Tetap harus ada unsur kualitatif. Jadi ketika Bapak Ibu tidak juara, lihat dulu aspek mana yang kurang.”
Ia memastikan seluruh catatan penilaian tersedia bagi peserta yang ingin mengetahui kekurangan masing-masing.
Para Pemenang Lomba Menyanyi Solo 2025
Setelah evaluasi, Hendra mengumumkan para pemenang:
• Harapan III (Juara 6): Fitri Astuti (SMPN 2 Rengasdengklok) – 172
• Harapan II (Juara 5): Alfa Nabila (STIT Al-Mujaddid) – 174
• Harapan I (Juara 4): Aula Qurrotul Aen (SDN Rengasdengklok Selatan 4) – 176
• Juara III: Dwi (SDN Kalijaya 1) – 177
• Juara II: Jamaludin (SMPN 1 Rengasdengklok) – 182
• Juara I: Nurul Aeni (SD) – 193 – nilai tertinggi
Apresiasi dan Penutup
Menutup sesi, Hendra menyampaikan permohonan maaf sekaligus apresiasi. “Semoga penilaian kami sesuai harapan. Terima kasih, dan mohon maaf atas segala kekurangan.”
Lomba ini kembali menegaskan satu hal penting: dalam seni, subjektivitas adalah bagian tak terpisahkan, namun persiapan yang matang tetap menjadi modal utama untuk meraih gelar juara.
Penulis: Alim

