
Karawang – Pengurus DPC Pejuang Siliwangi Indonesia Bersatu (PSIB) Kabupaten Subang melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor DPC PSIB Kabupaten Karawang, Kamis (11/12/2025). Namun, pertemuan antar dua cabang ini berubah menjadi perjalanan sejarah yang menggugah ketika rombongan memutuskan menapaki jejak Proklamasi dengan mengunjungi Rumah Sejarah Rengasdengklok di Dusun Kalijaya I, Desa Rengasdengklok Utara, Karawang.
Setibanya di Karawang, rombongan disambut hangat pengurus PSIB setempat sebelum bersama-sama menuju Rumah Bersejarah Djiauw Kie Siong, lokasi penting yang menjadi saksi “penculikan” Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta oleh para tokoh pemuda pada 16 Agustus 1945. Di rumah tua yang kini ditempati cucu Djiauw Kie Siong, Janto Joewari, itulah Proklamasi mulai dirumuskan, sementara Fatmawati menyiapkan bendera Merah Putih yang kelak dikibarkan pada 17 Agustus.
Dalam kunjungan ini, para pengurus PSIB mendapat pemaparan mendalam mengenai detik-detik genting menjelang proklamasi. Mereka melihat langsung ruang yang menjadi tempat Bung Karno dan Bung Hatta menyusun naskah kemerdekaan, serta mendalami peran para pemuda dalam mendorong percepatan proklamasi.
Yang membuat kunjungan ini semakin istimewa adalah fakta sejarah yang kembali diangkat: pertemuan Ir. Soekarno dengan Ama Raden Puradiredja, pendiri Pejuang Siliwangi Indonesia Bersatu. Dalam pertemuan tersebut, Ama Raden Puradiredja ikut memberikan pandangan strategis dan dorongan bahwa kemerdekaan harus dideklarasikan pada Jumat, 17 Agustus 1945, tanggal yang kemudian mengubah sejarah Indonesia.
Ketua DPC PSIB Kabupaten Subang, Ir. Beni Budiono, menegaskan bahwa momen ini bukan sekedar wisata sejarah, melainkan pengingat tentang harga sebuah kemerdekaan.
“Para tokoh seperti Ama Raden Puradiredja, Bung Karno, Bung Hatta, Djiauw Kie Siong, hingga Sukarni berjuang dengan tekad luar biasa. Kepahlawanan lahir dari keberanian untuk merdeka,” ujarnya.
Beni juga menambahkan pesan penting soal kepemimpinan masa kini.
“Pemimpin tidak lahir instan. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, dan kepercayaan rakyat, semua itu tumbuh dari hati yang bersih,” tegasnya.
Sekretaris Jenderal DPC PSIB Karawang, Kiki SH, mengajak peserta kunjungan dan masyarakat luas untuk tidak memutus hubungan dengan sejarah.
“Tanpa sejarah, kita tidak tahu bagaimana bangsa ini berdiri. Sejarah adalah kompas untuk menjaga kemerdekaan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian generasi muda terhadap warisan perjuangan bangsa.
“Anak muda harus sadar bahwa kepemimpinan dan perjuangan tidak datang tiba-tiba. Ada proses panjang yang perlu dipahami,” tambahnya.
Kunjungan dua DPC PSIB ini tidak hanya menjadi perjalanan mengenang masa lalu, tetapi juga refleksi bersama untuk menjaga nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa, sebuah pesan bahwa semangat Rengasdengklok harus terus hidup dalam jiwa generasi hari ini.
Penulis: Alim

