Bekasi – Sebuah video yang beredar luas di TikTok mendadak menyulut kemarahan publik. Unggahan dari akun Putra Maya itu menampilkan momen kebersamaan Istri Bupati Bekasi dan Istri Kapolres Bekasi yang terlihat bersukacita di sebuah rumah makan bernama Sop Mamih Darmi. Dalam rekaman tersebut, keduanya tampak menikmati jamuan sambil melakukan gerakan joget, seolah tanpa beban.
Namun, keriangan itu berbenturan keras dengan realitas nasional yang tengah berduka.
Kontras dengan Bencana Nasional
Di saat bersamaan, saudara-saudara kita di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh sedang berjibaku dengan bencana alam hebat, banjir bandang dan tanah longsor, yang merenggut korban jiwa dan memaksa ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Gambar kegembiraan keluarga pejabat di ruang publik digital pun dipersepsikan sebagai tamparan bagi nurani kolektif.
Gelombang kritik mengalir deras. Banyak warganet menilai perilaku tersebut mencerminkan ketidakpekaan sosial, terlebih karena figur yang tampil bukanlah warga biasa, melainkan representasi keluarga pejabat negara di tingkat daerah. Publik menuntut standar empati yang lebih tinggi dari mereka yang berada dekat dengan pusat kekuasaan.
Etika Kepemimpinan Dipertanyakan
Sebagai simbol moral di mata masyarakat, pejabat publik, termasuk keluarganya, dinilai semestinya menunjukkan solidaritas nasional, meski bencana tidak terjadi di wilayah administrasi mereka. Dalam pandangan publik, ruang digital adalah ruang etika, apa yang dipertontonkan di sana tak bisa dilepaskan dari konteks kebangsaan.
“Saat daerah lain berkabung, mengapa justru kemeriahan yang dipamerkan?” demikian nada kritik yang berulang di kolom komentar.
Desakan Klarifikasi
Hingga kini, desakan klarifikasi kian menguat agar kegaduhan tak berlarut. Publik mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam membagikan aktivitas pribadi, terutama di masa-masa krisis kemanusiaan. Transparansi dan empati dinilai menjadi kunci meredam polemik.
Pers dan insan media menegaskan komitmen untuk terus mengawal isu ini sebagai bagian dari penegakan etika kepemimpinan yang berlandaskan kemanusiaan dan keadilan sosial. Sebab, di tengah duka bangsa, kepekaan bukan sekedar pilihan, melainkan kewajiban moral.
Penulis: Alim


