KARAWANG – Gelombang kritik terhadap arah kebijakan pemerintah pusat hingga daerah kembali menguat. Kali ini datang dari Ketua Umum Paguyuban 45, Enday Sukandi, yang menilai negara justru semakin menjauh dari semangat kemerdekaan dengan menumpuk regulasi yang membatasi ruang gerak rakyat.
Menurut Enday, maraknya aturan dan undang-undang dari berbagai level pemerintahan telah menjelma menjadi “jeruji tak kasat mata” yang mengunci kebebasan masyarakat.
“Banyaknya kebijakan dan aturan, baik dari tingkat atas, menengah, hingga bawah, membuat kebebasan dan kemerdekaan rakyat kembali terkunci oleh regulasi,” tegas Enday, Minggu (4/1/2026).
Tak hanya soal regulasi, Enday juga menyoroti pemangkasan anggaran desa yang berdalih untuk penguatan Koperasi Merah Putih dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ia menyebut kebijakan tersebut ironis dan tidak berpijak pada realitas di lapangan.
“Faktanya, banyak masyarakat tidak tahu apa fungsi BUMDes dan koperasi. Katanya BUMDes akan mensejahterakan masyarakat, tapi kenyataannya nol besar,” ujarnya dengan nada keras.
Enday meragukan klaim pemerintah bahwa koperasi dan BUMDes menjadi solusi ekonomi rakyat. Ia menilai manfaat lembaga tersebut justru elitis dan hanya dinikmati segelintir pihak.
“Keberadaan Koperasi Merah Putih itu apakah benar-benar dirasakan masyarakat? Jangan-jangan hanya jadi alat kepentingan kelompok tertentu. Mau pinjam saja, rakyat disuruh bayar tabungan dulu. Ini jelas memberatkan rakyat kecil,” katanya.
Lebih jauh, Enday menggambarkan kondisi sosial ekonomi nasional yang semakin timpang. Rakyat kecil, menurutnya, semakin tersisih oleh sistem yang berpihak pada pemodal dan kelompok kuat.
“Rakyat kecil makin terkucilkan, rakyat jelata makin teraniaya. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” ucapnya, mengutip lirik lagu legendaris Rhoma Irama.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, terutama dalam mencari penghasilan. Namun di tengah situasi yang suram, Enday mengajak publik untuk tidak kehilangan nalar dan keberanian bersuara.
“Siap-siap kita akan menghadapi kesulitan cari duit. Tapi kita harus tetap melangkah ke depan, jangan mundur. Salam waras,” pungkasnya.
Pernyataan Enday ini diprediksi akan memicu diskursus publik yang lebih luas, terutama di tengah meningkatnya keresahan masyarakat desa terhadap arah kebijakan ekonomi dan pengelolaan anggaran yang dinilai kian menjauh dari kepentingan rakyat.
Penulis: Alim


