
CIANJUR | ULASBERITA.CLICK | Di tengah sunyinya perhatian dari pemerintah, warga Dusun Bobojong, Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, menunjukkan arti sebenarnya dari solidaritas. Tanpa anggaran, tanpa janji politik, mereka bergotong royong memperbaiki jalan utama kampung yang selama bertahun-tahun dibiarkan rusak parah.
Jalan yang rusak di RT 05 RW 04 itu bukan sekadar jalur penghubung antarrumah. Ia adalah nadi kehidupan, satu-satunya akses warga beraktivitas dan anak-anak pergi ke sekolah. Tapi setiap musim hujan, jalan berubah menjadi jebakan berlumpur, licin, curam, dan berbahaya. “Pas hujan, jalan licin dan kami sering jatuh. Ini sangat menyulitkan,” kata warga Bobojong, Minggu (6/7/2025).
Ironisnya, ketika warga bergerak, pemerintah desa justru diam. Tak ada anggaran, tak ada tenaga, bahkan sekadar kepedulian pun nihil. Jalan yang menghubungkan dua desa lintas kabupaten itu, Waringinsari di Cianjur dan Tanjungsari di Sukabumi, justru dibenahi dengan tangan warga dan jembatan bambu seadanya.
“Tidak ada program desa. Kalau dusun kami tak pernah masuk anggaran, lebih baik hapus saja RT-nya sekalian,” ujar warga Bobojong, menyuarakan kemuakan yang sudah terlalu lama dipendam.
Apa yang dilakukan warga bukan sekadar tambal sulam jalan. Ini bentuk perlawanan. Ini seruan diam yang berbunyi lantang: bahwa mereka sudah lelah diperlakukan seperti warga kelas dua.
Bagi masyarakat Bobojong, jalan dan jembatan bukan hanya soal infrastruktur. Itu soal martabat. Soal masa depan anak-anak. Soal tanggung jawab sosial yang sudah lama diabaikan negara.
“Kami hanya ingin kampung ini maju. Anak-anak bisa sekolah dengan aman. Itu saja,” ujar warga Bobojong lainnya.
Mereka tak menuntut uang. Mereka tak datang membawa spanduk protes. Mereka hanya ingin pemerintah melihat, ada kampung yang sedang berjuang sendirian, dan tak bisa selamanya bertahan di bawah bambu reyot dan tanah becek.
Tokoh masyarakat setempat pun bersuara. “Kalau warga sudah turun tangan, minimal pemerintah hadir. Jangan hanya diam dan pura-pura tak tahu,” tegasnya.
Kini, pertanyaannya tinggal satu. Setelah warga bergerak, apakah pemerintah masih akan tetap menonton? Atau mereka benar-benar sudah menutup mata terhadap penderitaan kampungnya sendiri?
Penulis: Alim

