
KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | Dunia jurnalistik kembali menjadi sorotan tajam setelah munculnya berbagai komentar miring di media sosial yang menyudutkan profesi wartawan. Salah satu unggahan yang viral datang dari akun TikTok @okaja9046 yang menyebut media konvensional sebagai “MEDIA KOPLAK LINTAH JALANAN,” serta menuding wartawan hanya mengincar bayaran semata.
Unggahan tersebut sontak memicu reaksi dari insan pers, terutama mereka yang selama ini bekerja di lapangan dengan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Sejumlah wartawan merasa geram dan kecewa, karena seolah-olah seluruh profesi mereka digeneralisasi negatif hanya karena ulah segelintir oknum.
“Oewoh kapaur disebut kitu, apalagi di TikTok banyak banget yang bully. Ada yang bilang wartawan kelaparan segala. Waduh! Weuh kapaur tah jelema,” ungkap salah satu jurnalis lokal di grup komunikasi media, Kamis (10/7).
Tak hanya itu, akun-akun lain turut merespons komentar tersebut. Akun @cipeuw8099 misalnya, menulis dalam bahasa Sunda: “Moal ngaruh babarawakan oge.. 😂😂,” yang kurang lebih berarti “tidak akan berpengaruh sama sekali.” Komentar ini semakin memperkeruh suasana, karena dianggap meremehkan profesi jurnalistik yang memiliki peran penting dalam demokrasi.
Sejumlah wartawan juga mempertanyakan: “Seumpama semua orang dinas, pejabat, bikin TikTok, YouTube, live konten nu aralusna hungkul atuh ah… Apakah semuanya bersih dari dugaan korupsi?”
Mereka menegaskan, media hadir bukan untuk mencari sensasi, melainkan sebagai penyeimbang yang mengupas fakta berdasarkan hasil check and recheck di lapangan dengan metode jurnalistik 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How) secara lengkap dan berimbang.
“Kalau media hanya menyampaikan yang bagus-bagus saja, lalu siapa yang akan mengawasi kinerja pejabat, proyek publik, atau distribusi anggaran rakyat? Di situlah peran penting media, bukan semata soal ‘konten’,” ujar seorang redaktur media daerah.
Fenomena komentar negatif terhadap media mencerminkan adanya krisis kepercayaan publik, yang diperparah oleh kemunculan media sosial dan konten kreator yang kadang tak memiliki akurasi maupun tanggung jawab etis seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pers.
Meski demikian, awak media menyadari bahwa dunia terus berubah, dan media pun dituntut untuk beradaptasi dengan era digital tanpa mengorbankan idealisme. Mereka juga berharap masyarakat lebih bijak dalam menilai dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang belum tentu valid hanya karena tampil menarik di TikTok atau YouTube.
“Media konvensional mungkin sedang diuji, tapi kami tetap yakin, selama informasi yang kami sampaikan berdasar data, fakta, dan kejujuran, maka jurnalisme akan tetap hidup dan dibutuhkan,” tutup pernyataan para jurnalis dalam diskusi tertutup.
Penulis: Alim

