
KARAWANG — Polemik panjang pencairan dana kadeudeuh bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Karawang kembali memanas. Forum klarifikasi yang diharapkan mampu memberi titik terang justru pecah menjadi kericuhan dan berakhir tanpa keputusan setelah pengurus Korpri memilih meninggalkan ruangan.
Sejak menit-menit awal, suasana forum tampak membara. Ketegangan meledak ketika seorang pengurus Korpri, RS, diduga melontarkan ucapan bernada merendahkan kepada peserta: “guru-guru garoblog”. Kalimat itu sontak menyulut amarah para pensiunan guru yang hadir.
“Saya tersinggung. Kami ini guru semua, masa dibilang begitu,” protes salah satu peserta dengan suara bergetar menahan emosi, Senin (1/12/2025).
Beberapa peserta mengaku mendengar langsung ucapan tersebut dan menilai pengurus Korpri bersikap tidak profesional. Alih-alih reda, adu argumentasi justru membuat forum makin panas dan sulit dikendalikan.
Pengurus Tinggalkan Ruangan, Ratusan Peserta Terbengkalai
Kericuhan memuncak saat peserta terus menuntut penjelasan mengenai nasib dana kadeudeuh yang bertahun-tahun tak kunjung cair. Namun bukannya menjawab, sejumlah pengurus Korpri justru memilih angkat kaki meninggalkan forum.
“Belum ada keputusan. Mereka malah bubar begitu saja. Tidak sopan,” ujar seorang anggota Pejuang Dana Korpri Terpending (PDKT) dengan nada kecewa.
Padahal sekitar 580 peserta telah hadir, banyak di antaranya datang dari luar kota demi mencari kepastian soal hak mereka.
Janji Cair Rp14 Juta Menyusut Jadi Rp7 Juta: Peserta Meradang
Akar kemarahan peserta bukan tanpa alasan. Besaran dana kadeudeuh yang sebelumnya dijanjikan Rp14 juta, tiba-tiba menyusut menjadi Rp7 juta tanpa dasar penjelasan yang jelas. Perubahan drastis ini membuat peserta kian curiga.
Kecurigaan membesar setelah muncul catatan pencairan Rp10 juta pada 2012, yang dianggap bertolak belakang dengan klaim pengurus bahwa dana selama ini “disetor ke pusat”.
“Kalau uang ke pusat, bagaimana bisa ada dana Rp10 juta keluar 2012?” tanya seorang peserta sebelum ucapannya dipotong pengurus, memicu gelombang protes berikutnya.
Pengurus Mengaku ‘Tidak Tahu Apa-apa’, Peserta Makin Murka
Saat peserta meminta penjelasan lengkap aliran dana, perwakilan pengurus justru mengaku tidak memahami persoalan karena merupakan pengurus baru.
“Kami pengurus baru, tidak tahu apa-apa,” ujar salah satu pengurus.
Pernyataan itu memantik amarah yang lebih besar.
“Kalau begitu kenapa mau jadi pengurus? Jabatan itu ada konsekuensinya!” balas seorang anggota PDKT lantang, membuat ruangan semakin riuh.
Peserta juga menyorot janji Korpri sebelumnya yang gagal ditepati, termasuk rencana pencairan pada 29 November bertepatan dengan HUT Korpri. Mereka menolak rencana pencairan simbolis Rp7 juta yang dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap hak anggota.
“Kalau simbolis diberikan, kita dianggap kalah,” tegas seorang koordinator PDKT, disambut gemuruh persetujuan peserta.
Keributan Menjalar ke Luar Gedung
Ketegangan tak berhenti di dalam forum. Di luar ruangan, perdebatan kembali pecah ketika sejumlah peserta menegur pengurus terkait ucapan kasar yang disebut dilontarkan sebelumnya.
Situasi sempat memanas sebelum akhirnya dilerai peserta lain.
Polemik Tak Berujung: Nasib Dana Kadeudeuh Makin Gelap
Hingga kini, tidak ada keputusan final yang disampaikan Korpri. Ketidakjelasan perubahan angka pencairan, inkonsistensi informasi, hingga dugaan kurangnya transparansi membuat polemik dana kadeudeuh ASN Karawang makin liar dan jauh dari penyelesaian.
Sementara itu, para anggota PDKT menegaskan akan terus menuntut kejelasan dan mempertanyakan akuntabilitas pengurus yang dianggap gagal memberikan jawaban.
Satu hal kini jelas: kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana kadeudeuh berada di titik kritis.
Penulis: Alim

