Ironi di Negeri Orang: PMI Asal Karawang Disekap 10 Hari di Dubai, Keluarga Berjuang Pulangkan

0
Caption: Ironi di Negeri Orang: PMI Asal Karawang Disekap 10 Hari di Dubai, Keluarga Berjuang Pulangkan

Karawang – Nasib pahit menimpa Ika Hasanah (43), pekerja migran perempuan asal Dusun Ciwaru, Desa Srikamulyan, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Niat hati ingin memperbaiki ekonomi keluarga dengan bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab, ia justru terjerat tekanan kerja, dugaan penipuan, hingga sempat disekap selama 10 hari.

Frustrasi di Rumah Majikan

Ika berangkat sebagai asisten rumah tangga dengan tugas utama memasak. Namun perbedaan budaya dan selera makanan membuat masakannya kerap dipermasalahkan. Komplain datang hampir setiap hari, disertai teguran keras hingga pertengkaran berulang.

Dalam waktu sekitar sepekan, tekanan mental yang ia rasakan semakin berat. Ia sempat meminta dipindahkan pekerjaan, tetapi tidak mendapat respons. Meski terus disalahkan, ia tetap dipaksa memasak. Merasa terpojok dan tanpa perlindungan, Ika akhirnya nekat kabur dari rumah majikannya.

Dijemput untuk Ditolong, Berujung Disekap

Pelariannya justru membawanya ke situasi yang lebih mencekam. Ia berkenalan dengan seseorang melalui media sosial yang mengaku hendak menolong. Namun harapan itu pupus ketika dalam perjalanan ia justru diikat di dalam mobil dan dibawa ke lokasi lain.

Ika kemudian dipindahkan ke tempat yang tidak dikenalnya dan disekap di dalam kamar selama sekitar 10 hari. Ia hanya diberi makan seadanya. Telepon genggamnya diawasi ketat, tidak boleh menyimpan nomor, apalagi membagikan lokasi keberadaannya.

Lima Bulan di Luar Perlindungan

Setelah keluar dari tempat penyekapan, penderitaan belum berakhir. Ia kembali dipindahkan dan selama kurang lebih dua bulan hidup berpindah-pindah. Untuk bertahan hidup, ia dipaksa bekerja serabutan.

Dalam kondisi ketakutan dan tekanan psikologis, Ika kerap menangis. Setiap kali mencoba kabur, pengawasan semakin diperketat. Total sekitar lima bulan sejak keberangkatan, ia berada di luar kendali majikan maupun sistem perlindungan resmi.

Keluarga Bergerak, Relawan Turun Tangan

Di Indonesia, suaminya Nurjaman akhirnya mengetahui kondisi sang istri dan segera melapor ke relawan serta aparat agar proses pemulangan bisa dilakukan. Koordinasi lintas pihak dilakukan, termasuk dengan jaringan relawan Forum Perlindungan Migran Indonesia (FPMI) DPD Kabupaten Karawang untuk penjemputan saat tiba di Tanah Air.

Keluarga juga memberikan surat kuasa kepada FPMI DPD Kabupaten Karawang guna mempercepat administrasi pemulangan.

“Harapannya satu saja, semoga proses pemulangannya lancar dan istri saya bisa pulang dengan selamat,” ujar Nurjaman, Sabtu (14/2/2026).

Alarm Bahaya bagi Pekerja Migran

Kasus Ika menjadi pengingat keras bahwa resiko pekerja migran Indonesia di luar negeri masih tinggi. Tekanan kerja, penipuan berkedok bantuan, hingga potensi perdagangan orang bisa mengintai, terutama ketika pekerja kehilangan akses perlindungan resmi.

Publik pun kembali mempertanyakan: sejauh mana sistem pengawasan dan perlindungan benar-benar hadir bagi para pekerja migran yang menggantungkan harapan hidupnya di negeri orang?

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini