Jeritan Ibu dari Karawang: Putrinya Diduga Disiksa di Libya, Tak Digaji, Pulang Diminta Tebus Rp4 Juta

0
Caption: Jeritan Ibu dari Karawang: Putrinya Diduga Disiksa di Libya, Tak Digaji, Pulang Diminta Tebus Rp4 Juta

Karawang – Jeritan hati seorang ibu kembali menggema dari pelosok Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Umi, warga Dusun Bolang, Desa Bolang, Kecamatan Tirtajaya, tak kuasa menahan air mata saat menceritakan nasib tragis putrinya, Murnah Wulandari, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kini terkatung-katung di luar negeri dan diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi.

Dengan suara bergetar, Umi mengungkapkan bahwa Murnah telah bekerja di luar negeri selama kurang lebih satu tahun lima bulan. Awalnya, Murnah ditempatkan di Abu Dhabi selama sekitar satu tahun. Namun tanpa kejelasan dan perlindungan yang memadai, ia kemudian dipindahkan ke Libya, negara yang dikenal rawan konflik, dan telah bekerja di sana selama lima bulan terakhir.

“Di Libya katanya sudah tiga bulan bekerja tapi tidak dibayar. Sekarang posisinya ada di kantor, bukan di rumah majikan,” ujar Umi saat ditemui di kediamannya, Rabu (4/2/2026).

Berdasarkan pengakuan Murnah melalui sambungan telepon singkat, ia kerap mengalami tekanan berat hingga kekerasan fisik. Umi menyebut putrinya mengaku pernah dipukul, telepon genggamnya dirampas, serta dibatasi untuk berkomunikasi dengan keluarga. Kondisi fisik Murnah pun disebut semakin mengkhawatirkan.

“Kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Katanya harus selalu didampingi,” tutur Umi dengan mata berkaca-kaca.

Awalnya, Umi mengira sulitnya berkomunikasi dengan sang anak disebabkan oleh kendala jaringan atau akses WiFi. Namun seiring waktu, kecurigaannya berubah menjadi ketakutan yang nyata.

“Ternyata bukan karena tidak ada WiFi, tapi kemungkinan sedang disiksa,” ucapnya lirih.

Murnah disebut telah berulang kali menyampaikan keinginannya untuk pulang ke Indonesia. Namun hingga kini, permintaan tersebut tak kunjung terwujud. Keluarga hanya bisa menunggu dalam kecemasan, tanpa kepastian, tanpa perlindungan negara yang terasa nyata.

Diketahui, keberangkatan Murnah ke luar negeri difasilitasi oleh seorang sponsor bernama Hj. Dida, warga Dusun Jati Manggah, Desa Bolang, Kecamatan Tirtajaya. Umi mengaku sudah sedikitnya tiga kali mendatangi sponsor tersebut dalam beberapa bulan terakhir, memohon agar putrinya segera dipulangkan.

Namun jawaban yang diterima justru menambah luka. Umi menyebut pihak sponsor meminta keluarga menyiapkan biaya sekitar Rp4 juta untuk ongkos pemulangan dan tiket.

“Saya beranggapan, keberangkatan anak saya diurus oleh Bu Hj. Dida, maka kepulangannya juga seharusnya diurus. Tapi sekarang ketika anak saya ingin pulang, justru tidak ditanggapi,” ujar Umi dengan nada kecewa.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah, Hj. Dida selaku sponsor menyatakan kesiapannya untuk memulangkan Murnah, dengan syarat seluruh biaya pemulangan ditanggung oleh pihak keluarga.

“Saya siap memulangkan, asalkan biaya ongkos ditanggung oleh pihak keluarga TKW,” ujarnya singkat.

Kasus ini kembali membuka luka lama tentang lemahnya perlindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia, khususnya perempuan, yang kerap menjadi korban eksploitasi, kekerasan, dan praktik perekrutan yang dipertanyakan. Publik pun bertanya, di mana peran negara ketika warganya terjebak dalam situasi diduga penyiksaan di negeri orang?

Kini, Umi hanya menggantungkan harapan pada kepedulian publik dan campur tangan pihak berwenang agar putrinya bisa segera dipulangkan dalam keadaan selamat.

“Saya tidak minta apa-apa. Saya hanya ingin bisa berkumpul dan hidup tenang kembali bersama anak saya di kampung,” pungkasnya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini