
Karawang – Di ujung senja hidupnya, Darti (64), warga Dusun Talun Asman, Desa Talunjaya, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menjalani hari-hari penuh keterbatasan. Ia hanya tinggal berdua dengan anak semata wayangnya di sebuah rumah reyot yang nyaris roboh.
Rumah itu berdinding anyaman bambu, atap gentengnya bolong-bolong, dan tiangnya mulai lapuk dimakan usia. Ketika hujan, air merembes masuk. Saat angin kencang berhembus, suara genteng yang bergeser membuat hati was-was.
Meski hidup dalam kondisi miskin, Ibu Darti mengaku tak pernah tersentuh bantuan sosial dari pemerintah, baik BPNT maupun PKH.
“Kenapa saya tidak dapat bantuan? Saya ini hidup miskin, rumah juga mau roboh. Cuma tinggal sama anak saya,” ucap Darti dengan suara lirih, matanya berkaca-kaca saat ditemui di rumahnya, Sabtu (9/8/2025).
Anaknya yang masih muda hanya bekerja serabutan sebagai buruh harian lepas, penghasilannya tidak menentu. Untuk sekadar makan sehari-hari saja sering kali mereka harus berhemat.
Ibu Darti berharap suaranya dapat terdengar hingga ke pemerintah desa, Pemda Karawang, bahkan Gubernur Jawa Barat. Ia memohon agar ada bantuan untuk memperbaiki rumahnya dan meringankan beban hidupnya di usia senja.
“Mudah-mudahan ada yang peduli, saya ingin sekali dapat bantuan supaya hidup saya dan anak saya lebih layak,” ujarnya penuh harap.
Kondisi Ibu Darti adalah potret nyata bahwa masih banyak warga miskin yang luput dari pendataan dan bantuan. Jeritan hatinya adalah panggilan kemanusiaan bagi siapa saja yang masih memiliki nurani.

