KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | Di tengah sorotan megahnya pembangunan kota dan deretan aturan baru pendidikan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ada kisah yang nyaris tak terdengar dari utara Karawang. Kisah tentang anak-anak yang lebih dulu basah oleh air laut sebelum duduk di bangku kelas.
Mereka adalah siswa SMPN 1 Cibuaya, sebuah sekolah satu atap di pesisir Karawang. Setiap pagi, anak-anak ini harus berjalan kaki melewati laut pasang. Sepatu mereka lepas, seragam digulung, demi bisa menuntaskan satu kewajiban: belajar.
Ironis, karena yang mereka dapat hanyalah kewajiban, tanpa hak yang sepadan. Gedung sekolah yang layak? Tidak ada. Jalan akses yang aman? Jauh dari kata layak. Mutu pendidikan yang bermartabat? Masih menjadi mimpi.
Semua itu terjadi sementara di tempat lain, seorang pejabat berseloroh santai di depan kamera: murid harus masuk sekolah pukul 06.30 pagi, dilarang bawa kendaraan, dan seolah semua siswa hidup dalam kemewahan fasilitas pendidikan.
Inilah potret buram pendidikan kita: yang paling membutuhkan justru paling dilupakan. Anak-anak pesisir Karawang tidak butuh aturan kaku, mereka butuh keadilan, perhatian, dan bukti bahwa negara benar-benar hadir.
Penulis: Alim


