
JAKARTA – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dinamika dunia media, Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Kabupaten Karawang memilih menengok ke belakang untuk menatap masa depan. Menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026, AMKI Karawang turut ambil bagian dalam rangkaian ziarah tokoh pers nasional di Taman Makam Pahlawan Utama Nasional (TMPUN) Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).
Sejak awal kegiatan, AMKI Karawang bergabung bersama AMKI Pusat mengikuti prosesi ziarah yang berlangsung khidmat. Tabur bunga, pengiriman doa, serta pembacaan Surat Al-Fatihah di pusara para tokoh pers nasional menjadi simbol penghormatan atas jasa dan perjuangan mereka dalam menjaga kemerdekaan pers di Indonesia.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut bersama AMKI Jawa Barat dan seluruh jajaran AMKI kota serta kabupaten se-Jawa Barat, termasuk Karawang. Pada sesi ini, doa bersama kembali dipanjatkan di area makam tokoh pers nasional yang dipimpin oleh Sekretaris AMKI Kabupaten Karawang, Rd. Cholil Arief, menambah suasana reflektif dalam peringatan jelang HPN.
Ketua AMKI Kabupaten Karawang, H. Endang Suryana, menegaskan bahwa ziarah ini bukan sekedar rutinitas tahunan atau agenda simbolik menjelang HPN 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut membawa pesan penting bagi insan pers, khususnya di daerah, agar tidak terjebak pada hiruk pikuk industri semata.
“Menyambut HPN bukan hanya soal seremonial atau perayaan. Ini tentang menghormati sejarah dan jasa para tokoh pers. Ziarah ini menjadi pengingat bahwa profesi wartawan lahir dari perjuangan, keberanian, dan idealisme,” ujar Endang yang akrab disapa Endang Nupo.
Ia menilai, di tengah tantangan zaman, tekanan ekonomi media, hingga maraknya disinformasi, nilai-nilai dasar pers justru harus semakin diperkuat. Menurutnya, tanpa pijakan sejarah, pers beresiko kehilangan arah dan jati dirinya.
AMKI Kabupaten Karawang berharap rangkaian kegiatan menjelang HPN 2026 ini mampu menjadi momentum refleksi kolektif sekaligus penguat solidaritas insan pers, terutama di tingkat daerah yang kerap menghadapi tantangan berat dalam menjaga independensi dan profesionalisme.
Ziarah tersebut menegaskan satu pesan kuat: pers boleh dan harus terus bergerak maju mengikuti zaman, tetapi akar sejarah, nilai perjuangan, dan idealisme para pendahulunya tidak boleh dilupakan.
Red

