KARAWANG | ULASBERITA.CLICK | Kritik tajam dilontarkan Nurdin Syam, yang dikenal luas sebagai MR. Kim, CEO media independen Lintaskarawang.com, terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Dalam pernyataan terbukanya pada Kamis (10/7), MR. Kim menyebut Gubernur KDM tidak hanya alergi kritik, tapi juga diduga menjalankan operasi sistematis untuk membungkam suara-suara kritis melalui pasukan siber yang dimobilisasi secara terstruktur.
“Setiap kali KDM dikritik, langsung muncul gelombang komentar pembela. Ini bukan reaksi alami, ini orkestrasi. Ada kendali, ada komando,” tegas MR. Kim.
Menurutnya, serangan balik terhadap pengkritik KDM di media sosial bukanlah reaksi spontan warga, melainkan bagian dari strategi komunikasi politik yang menggunakan relawan digital sebagai tameng propaganda.
“Ini bukan simpati rakyat, ini mesin perang. Mereka dikonsolidasikan dalam grup WhatsApp, digerakkan secara sistematis untuk membentuk narasi dan menghajar oposisi. Ini tekanan digital yang mengikis fondasi demokrasi,” lanjutnya.
MR. Kim menyoroti bahwa narasi publik di Jawa Barat saat ini tidak lagi tumbuh dari kesadaran kolektif, melainkan diproduksi lewat algoritma, dikendalikan oleh tim propaganda, dan dibungkus dalam citra populis yang menyesatkan.
“Demokrasi kita sedang dibajak. Ruang publik dikotori oleh ilusi dukungan. Kamera tersenyum, tapi di belakang layar ada pasukan siber yang bekerja siang malam memanipulasi persepsi publik,” katanya dengan nada tajam.
Ia memperingatkan bahwa masyarakat Jawa Barat sedang diuji akal sehatnya, apakah akan tunduk pada euforia pencitraan, atau justru bangkit mempertanyakan sumber suara-suara digital yang terlalu seragam dan serba memuja.
“Kalau kritik dibungkam dengan algoritma dan komentar pesanan, maka yang menang bukanlah kebenaran, tapi mereka yang punya mesin propaganda. Ini bahaya laten. Demokrasi tidak boleh dikuasai oleh buzzer berseragam relawan,” tegas MR. Kim.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi dinamika politik di Jawa Barat, yang kini dinilai tengah memasuki era “tirani digital”. Publik diimbau untuk tidak larut dalam pusaran narasi palsu, dan kembali menjaga nalar kritis agar demokrasi tak tenggelam oleh propaganda berkedok populisme.
“Diamnya rakyat adalah kemenangan bagi penindas. Demokrasi bukan panggung pencitraan, tapi ruang bagi kebenaran untuk bicara,” tutup MR. Kim.
Penulis: Alim


