
Karawang – Setelah sempat memanas dan menimbulkan spekulasi publik, polemik terkait Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Pasirawi, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, akhirnya menemukan titik terang. Tokoh masyarakat Tamri dan Kepala Desa Ahmad Sobari tampil bersama memberikan klarifikasi terbuka untuk meluruskan kesalahpahaman yang sempat mengguncang kepercayaan warga terhadap pengelolaan Bumdes.
Dalam pernyataannya, Tamri menegaskan bahwa isu negatif yang beredar hanyalah akibat miskomunikasi, bukan karena adanya penyimpangan sebagaimana sempat dispekulasikan sebagian pihak.
“Mohon maaf kepada semuanya, itu terjadi karena miskomunikasi atau kesalahpahaman. Tadinya mungkin oleh kami dianggap gelap, sekarang sudah terbuka. Pak Lurah sudah terang-terangan, jadi yang tadinya cemburu sosial itu sekarang sudah clear, sudah tidak ada permasalahan lagi,” ujar Tamri, Senin (3/11/2025).
Tamri berharap, kejadian tersebut menjadi pelajaran penting agar pengelolaan Bumdes ke depan lebih profesional dan terbuka kepada masyarakat.
“Mudah-mudahan ini jadi bahan evaluasi supaya Bumdes lebih baik, baik dari penggunaan hasil maupun pengelolaannya. Semoga keterbukaan dan transparansi bisa lebih dijalankan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pasirawi Ahmad Sobari mengaku sempat terkejut dengan pemberitaan yang menyinggung Bumdes tidak transparan. Namun, ia menilai hal itu sebagai kritik membangun untuk memperbaiki sistem pemerintahan desa.
“Saya awalnya kaget dengan pemberitaan tersebut, tapi saya anggap ini sebagai kritik positif. Saya sudah menjelaskan langsung ke tokoh masyarakat mengenai kegiatan Bumdes seperti pengolahan sawah, penanaman brokoli, dan pembelian domba,” jelasnya.
Menurut Ahmad Sobari, kritik dari masyarakat justru menjadi pemicu semangat perubahan menuju tata kelola pemerintahan desa yang lebih terbuka dan akuntabel.
“Kritikan ini sangat membangun bagi saya pribadi. Saya berterima kasih, apalagi tokoh masyarakatnya adalah orang tua saya sendiri. Ini menjadi pelajaran berharga agar saya lebih transparan lagi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keterbukaan adalah kunci untuk menghindari kesalahpahaman antara pemerintah desa dan warganya.
“Saya ingin keterbukaan lebih diutamakan, karena kalau tertutup bisa menimbulkan kesalahpahaman. Kalau terbuka, semuanya enak, tidak ada miskomunikasi lagi,” pungkasnya.
Dengan adanya klarifikasi ini, suasana di Desa Pasirawi kembali kondusif. Baik pemerintah desa maupun tokoh masyarakat sepakat untuk memperkuat komunikasi dan sinergi, agar pengelolaan Bumdes berjalan lebih transparan, partisipatif, dan berorientasi pada kesejahteraan warga.
Penulis: Alim

