KARAWANG — Proyek pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di Dusun Bengle, Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, menuai sorotan tajam dari warga. Proyek yang bersumber dari anggaran negara itu dinilai berjalan lamban, tidak maksimal, bahkan terkesan mangkrak, sehingga berdampak langsung pada aktivitas pertanian masyarakat.
Warga setempat berinisial SL mengungkapkan kekecewaan atas minimnya progres pekerjaan di lapangan. Proyek yang seharusnya menjadi penunjang utama akses pertanian justru berubah menjadi hambatan serius menjelang musim panen. Ironisnya, pekerjaan tersebut disebut sempat berhenti hampir satu bulan, meskipun masa pelaksanaan terus berjalan.
“Kerjanya tidak konsisten. Mulai sekitar jam 10 pagi, jam 3 sore sudah berhenti. Material juga datang tidak menentu, paling dua hari sekali,” ungkap SL kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Ia menegaskan, bila proyek dikerjakan secara serius dan profesional, seharusnya sudah rampung sebelum masa panen tiba. Namun hingga kini, kondisi jalan masih jauh dari kata selesai.
“Kalau dikerjakan benar, sebelum panen sudah beres. Ini panen sudah dekat, tapi jalannya belum jadi,” keluhnya.
Keterlambatan tersebut berdampak langsung terhadap para petani. Akses menuju area persawahan terganggu, bahkan sempat terjadi penghentian sementara aktivitas proyek oleh petani karena dikhawatirkan menghambat proses panen. Kondisi ini memicu kemarahan warga, mengingat fungsi utama Jalan Usaha Tani adalah memperlancar distribusi hasil pertanian, bukan sebaliknya.
Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan tersebut merupakan Belanja Pembangunan, Rehabilitasi, dan Pemeliharaan Jalan Usaha Tani yang bersumber dari DPA Dinas Pertanian Kabupaten Karawang Tahun Anggaran 2025. Proyek bernilai Rp179.480.666 itu memiliki masa pekerjaan 40 hari kalender, terhitung sejak 11 November hingga 20 Desember 2025, dengan pelaksana CV Zay Brother.
Namun fakta di lapangan memunculkan tanda tanya besar. Dengan panjang jalan sekitar 270–300 meter dan lebar 1,5 meter, warga menilai proyek tersebut seharusnya dapat diselesaikan jauh lebih cepat apabila didukung tenaga kerja yang memadai dan distribusi material yang lancar.
“Secara kualitas bagus, volumenya sesuai. Tapi pengerjaannya terlalu lama. Pekerja sedikit, bahan sering telat,” tambah SL.
Lambannya progres juga memunculkan dugaan lemahnya pengawasan dari dinas terkait. Minimnya aktivitas di lokasi proyek dinilai tidak sebanding dengan waktu dan anggaran yang telah digelontorkan. Warga pun mendesak Pemerintah Kabupaten Karawang dan Dinas Pertanian untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh.
“Jangan sampai petani terus jadi korban. Ini uang negara, harusnya manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” tegas SL.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek maupun Dinas Pertanian Kabupaten Karawang belum memberikan keterangan resmi terkait keterlambatan pengerjaan Jalan Usaha Tani di Dusun Bengle tersebut.
Penulis: Alim


