Ratusan Wartawan “Kepung” Karawang, Silaturahmi Akbar Pers 2026 Jadi Ajang Kritik dan Konsolidasi

0
Caption: Ratusan Wartawan “Kepung” Karawang, Silaturahmi Akbar Pers 2026 Jadi Ajang Kritik dan Konsolidasi

Karawang – Ratusan insan pers dari Karawang, Bekasi, dan Purwakarta memadati Aula Husni Hamid, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Karawang, Rabu (11/3/2026). Pertemuan bertajuk Silaturahmi Akbar Pers 2026 itu tidak sekedar menjadi ajang kumpul wartawan, tetapi juga berubah menjadi ruang konsolidasi sekaligus panggung penyampaian kritik terhadap berbagai persoalan dunia pers di daerah.

Sejak pukul 15.00 WIB, ratusan jurnalis dari media cetak, online, dan elektronik mulai berdatangan. Hingga acara berakhir sekitar pukul 19.00 WIB, suasana aula dipenuhi diskusi serius, perbincangan hangat, hingga penyampaian aspirasi yang menyoroti hubungan antara media dan pemerintah daerah.

Kegiatan ini dihadiri belasan organisasi wartawan dari wilayah Karawang, Bekasi, dan Purwakarta. Kehadiran mereka mencerminkan meningkatnya kesadaran di kalangan jurnalis daerah untuk memperkuat solidaritas profesi sekaligus memperjuangkan ruang kerja jurnalistik yang lebih sehat.

Namun, di balik suasana silaturahmi, forum tersebut juga menjadi tempat para wartawan menyuarakan berbagai kegelisahan yang selama ini dirasakan di lapangan.

Ketua Panitia Silaturahmi Akbar Pers 2026, Doni Ardon, mengatakan kegiatan ini sengaja dirancang bukan sekedar seremoni, melainkan sebagai ruang dialog terbuka antara insan pers dengan para pemangku kebijakan.

“Silaturahmi ini menjadi wadah untuk memperkuat kebersamaan sekaligus memberikan ruang bagi insan pers untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada para pemangku kebijakan,” ujarnya dalam sambutan.

Menurut Doni, pers sebagai pilar keempat demokrasi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pemerintahan. Karena itu, komunikasi yang sehat antara media dan pemerintah daerah menjadi hal yang sangat penting.

Ia menegaskan, hubungan yang harmonis antara pemerintah dan media tidak boleh dimaknai sebagai upaya meredam kritik.

“Pers tetap harus kritis. Justru kritik yang konstruktif dari media menjadi bagian penting dalam memperbaiki kebijakan publik,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Nurdin Syam, atau yang akrab disapa MR. KiM, menilai kegiatan ini juga menjadi momentum strategis untuk mempererat solidaritas antarinsan pers di wilayah Jawa Barat VII yang meliputi Karawang, Bekasi, dan Purwakarta.

“Melalui kegiatan ini kita ingin memperkuat persaudaraan antar jurnalis sekaligus membangun komunikasi yang lebih baik antar organisasi wartawan,” kata MR. KiM.

Dalam forum dialog yang berlangsung cukup dinamis, sejumlah isu strategis dunia pers mencuat ke permukaan. Para jurnalis menyoroti berbagai tantangan yang kini dihadapi industri media, mulai dari tekanan ekonomi terhadap perusahaan pers, maraknya informasi hoaks, hingga praktik jurnalistik tidak profesional yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap media.

Selain itu, persoalan perlindungan terhadap wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik juga menjadi sorotan penting dalam diskusi tersebut.

Beberapa jurnalis bahkan menyinggung masih adanya hambatan dalam memperoleh akses informasi publik dari sejumlah instansi pemerintah daerah.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat kerja jurnalistik yang seharusnya berjalan transparan dan terbuka.

Di sisi lain, para peserta juga menekankan pentingnya menjaga independensi media di tengah dinamika politik dan ekonomi yang semakin kompleks. Pers daerah diharapkan tidak terjebak dalam kepentingan kelompok tertentu yang dapat memengaruhi objektivitas pemberitaan.

Diskusi yang berlangsung dalam forum tersebut menunjukkan bahwa pers daerah tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pengawas jalannya pemerintahan.

Peran kontrol sosial itulah yang menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas demokrasi di tingkat lokal.

Selain dialog serius, kegiatan ini juga diwarnai suasana kekeluargaan melalui sesi ramah tamah dan buka puasa bersama. Momentum tersebut menjadi simbol bahwa di tengah perbedaan pandangan dan dinamika profesi, insan pers tetap memiliki semangat persatuan.

Silaturahmi Akbar Pers 2026 di Karawang diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Banyak peserta berharap forum ini dapat menjadi awal dari gerakan kolektif untuk memperkuat profesionalisme, integritas, dan solidaritas wartawan di daerah.

Di tengah derasnya arus informasi digital dan tekanan terhadap industri media, pers daerah dituntut semakin kuat, independen, dan berintegritas.

Sebab pada akhirnya, pers yang bebas dan profesional bukan hanya kepentingan wartawan semata, tetapi juga menjadi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jujur, akurat, dan dapat dipercaya.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini