
Karawang – Proyek revitalisasi SDN Mekarjati IV di Kecamatan Karawang Barat menuai sorotan tajam dari dua aktivis masyarakat, Ahmad Muslim dan Ade Balok. Keduanya menilai proyek yang menelan dana Rp1,4 miliar dari APBN Tahun Anggaran 2025 itu dikerjakan asal-asalan dan berpotensi merugikan negara.
Dalam pantauan lapangan, Ahmad Muslim menyebut sejumlah pekerjaan konstruksi jauh dari standar teknis yang semestinya diterapkan.
“Pemasangan dinding tidak menggunakan alat lot atau unting-unting, sehingga dinding menjadi miring dan tidak presisi. Ini jelas kesalahan teknis fatal,” ujarnya saat ditemui di Karawang, Senin (3/11/2025).
Tak berhenti di situ, ia juga menyoroti pemasangan lantai yang dinilai dilakukan tanpa adukan semen memadai.
“Keramik hanya dipasang dengan campuran semen-pasir tipis. Ini bukan pekerjaan ahli. Kalau seperti ini, lantai pasti cepat rusak,” tegas Muslim.
Senada, Ade Balok menyebut kondisi tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan dari pihak terkait, baik dari instansi teknis maupun pihak sekolah.
“Pekerja di lapangan bukan tenaga ahli, tapi tetap dibiarkan tanpa pendampingan teknis. Bahkan kepala sekolah pun tidak menghentikan pekerjaan itu, padahal sudah jelas melanggar spesifikasi,” ujar Ade Balok dengan nada kecewa.
Dana Miliaran, Kualitas Dipertanyakan
Kedua aktivis tersebut mendesak Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan segera turun tangan untuk memeriksa langsung proyek tersebut.
“Uang negara miliaran rupiah harus digunakan sesuai aturan. Kalau pengerjaannya begini, bisa jadi ada unsur pemborosan atau bahkan penyimpangan,” kata Ahmad Muslim.
Berdasarkan papan proyek, kegiatan revitalisasi SDN Mekarjati IV dilaksanakan selama 150 hari kalender, dengan total anggaran Rp1.413.021.498 dari Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Temuan Teknis di Lapangan
Hasil peninjauan di lokasi mencatat beberapa dugaan pelanggaran teknis serius, di antaranya:
1. Ring balk keliling menggunakan besi diameter ±8 mm dengan jarak antar sengkang ±30 cm (standar maksimal 20 cm).
2. Pengecoran tanpa proses “mixing” yang benar dan indikasi kekurangan kadar air.
3. Pemasangan keramik dan pondasi tanpa perombakan lantai lama (tidak di-rohak), berpotensi menyebabkan lapisan bergeser dan cepat rusak.
Ahmad Muslim menilai kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan dini pada struktur bangunan sekolah.
“Ini bukan sekedar proyek formalitas. Kalau dibiarkan, bisa membahayakan anak-anak yang bersekolah di sana,” ujarnya tegas.
Sementara Ade Balok menekankan, kritik ini adalah bentuk kepedulian masyarakat terhadap kualitas pembangunan, bukan serangan terhadap pihak manapun.
“Kami hanya ingin proyek publik di Karawang dikerjakan dengan benar dan bermanfaat jangka panjang,” pungkasnya.
Desakan Audit dan Evaluasi
Aktivis mendorong agar Dinas Pendidikan Karawang melakukan audit teknis menyeluruh terhadap proyek tersebut. Masyarakat pun diimbau ikut mengawasi penggunaan dana publik, agar mutu pendidikan tidak dikorbankan oleh pembangunan yang setengah hati.
“Kalau proyek sekolah saja dikerjakan asal-asalan, apa jadinya masa depan anak-anak kita?” tutup Ahmad Muslim dengan nada prihatin.
Penulis: Alim

