KARAWANG — Pesan kuat tentang persatuan dan toleransi bergema dalam kegiatan Rumah Ramadhan: Harmoni Ramah Taruna yang digelar di Aula Kementerian Agama Kabupaten Karawang, Jumat (13/3/2026). Kegiatan yang mempertemukan tokoh lintas agama, organisasi masyarakat, dan unsur pemerintah daerah itu menjadi momentum penting memperkuat kerukunan di tengah keberagaman.
Ketua Umum Karang Taruna Kabupaten Karawang, Dr. (C) Dhani Sudirman, S.T., S.E., M.M., menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni antar umat beragama di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Dhani mengajak seluruh peserta bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena masih diberikan kesehatan dan kesempatan berkumpul dalam forum silaturahmi yang mengusung semangat moderasi beragama tersebut. Ia juga berharap nilai-nilai keimanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana forum pun mencair ketika Dhani menyampaikan sebuah pantun yang langsung disambut tepuk tangan peserta.
“Duduk manis makan buah delima, jangan lupa mengajak riska. Mari kita jaga kerukunan bersama demi tanah air yang sejahtera,” ujarnya.
Dhani menyampaikan apresiasi atas kehadiran berbagai unsur penting dalam kegiatan tersebut, mulai dari perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Karawang, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, hingga tokoh-tokoh agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Menurutnya, kehadiran tokoh lintas agama dalam satu forum merupakan bukti nyata komitmen bersama untuk menjaga harmoni dan toleransi di Kabupaten Karawang.
Ia menegaskan, Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan memiliki peran penting dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial di masyarakat. Dengan struktur yang hadir hingga tingkat desa dan kelurahan, Karang Taruna dinilai memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan warga.
“Karang Taruna adalah organisasi yang memiliki tugas sosial. Karena itu program dan karakternya harus jelas, yakni hadir untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat,” kata Dhani.
Dalam masa kepemimpinannya, Karang Taruna Karawang juga mulai mengembangkan sejumlah unit teknis untuk memperkuat peran organisasi, seperti unit kebersihan lingkungan, pusat pelatihan masyarakat, pengembangan seni dan budaya, hingga Akademi Karang Taruna yang bertujuan meningkatkan kapasitas generasi muda.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga keamanan dan keharmonisan lingkungan sosial, termasuk di sekitar rumah ibadah.
“Masjid, gereja, wihara, pura, dan tempat ibadah lainnya berada di tengah masyarakat. Karang Taruna di desa dan kelurahan memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut menjaga lingkungannya,” ujarnya.
Menurut Dhani, keberagaman suku, bangsa, dan agama adalah kehendak Tuhan agar manusia saling mengenal dan saling menghormati.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal dan membangun kebersamaan,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Dhani mengajak seluruh peserta tidak hanya menjadikan kegiatan tersebut sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai langkah awal menyusun rencana kerja bersama dalam memperkuat moderasi beragama dan kerukunan di masyarakat. Ia juga mengajak seluruh peserta menandatangani fakta integritas serta ikrar bersama sebagai komitmen menjaga harmoni dan persatuan di Kabupaten Karawang.
Sementara itu, Kasubag TU Kementerian Agama Kabupaten Karawang, H. Yakub Lubis, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Karang Taruna yang dinilai mampu menghadirkan ruang dialog dan kolaborasi lintas agama.
Menurutnya, kegiatan Rumah Ramadhan bukan hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan aksi sosial yang langsung dirasakan masyarakat, seperti pembagian takjil serta kegiatan kolaboratif lintas agama.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Rumah Ramadhan yang diprakarsai Karang Taruna. Ini bukan sekedar kegiatan seremonial, tetapi juga menghadirkan kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Yakub juga menilai kepemimpinan Karang Taruna Karawang saat ini sangat inspiratif karena dipimpin oleh generasi muda yang penuh semangat untuk berkontribusi bagi masyarakat.
“Karang Taruna hari ini dipimpin oleh pemuda yang masih muda dan penuh energi. Ini menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa pemuda adalah generasi masa depan,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kehidupan berbangsa seperti sebuah taman yang indah dengan berbagai jenis bunga yang berbeda warna, bentuk, dan aroma.
“Justru karena perbedaan itulah taman menjadi indah. Begitu juga Indonesia. Kita berbeda agama, suku, dan budaya, tetapi ketika saling menghormati dan saling menguatkan, perbedaan itu menjadi kekuatan,” jelasnya.
Yakub menegaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan cara beragama yang bijak, damai, serta saling menghormati.
Ia menambahkan, ada tiga nilai penting yang harus dijaga dalam momentum Ramadhan, yakni kepedulian sosial, persaudaraan kemanusiaan, dan toleransi beragama.
“Jika jembatan itu kokoh, maka masyarakat akan bisa menyeberang menuju kehidupan yang lebih damai dan sejahtera. Karena itu pemuda harus menjadi generasi yang menebarkan kesejukan, membangun jembatan persaudaraan, bukan tembok pemisah,” ujarnya.
Yakub menutup sambutannya dengan sebuah pantun yang kembali mengundang senyum para peserta.
“Jalan pagi menuju ke lima, lima manis dibagikan berlima, pemuda bersatu menjaga sesama, moderasi beragama Indonesia terjaga selamanya.”
Penulis: Alim


