Saat Mahasiswa Berdarah, Pejabat Makan Siang: Kontras Memalukan di Jantung Pemda Bekasi

0
Saat Mahasiswa Berdarah, Pejabat Makan Siang: Kontras Memalukan di Jantung Pemda Bekasi

Bekasi — Sebuah ironi telanjang tersaji di depan Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi, Kamis (2/4/2026). Di luar pagar kekuasaan, ratusan mahasiswa berteriak, berdesakan, bahkan berdarah. Di dalamnya, pejabat justru tampak tenang, menikmati makan siang.

Aksi bertajuk “BenahinBekasi” yang digelar aliansi Cipayung Plus Kabupaten Bekasi awalnya berlangsung damai. Namun situasi berubah panas saat massa mencoba masuk ke kompleks Pemda untuk menyampaikan langsung tuntutan mereka.

Bentrok pun tak terhindarkan.

Mahasiswa terlibat adu fisik dengan aparat keamanan, mulai dari Satpol PP hingga petugas pengamanan dalam. Dorong-dorongan berubah menjadi pukulan. Beberapa mahasiswa terlihat tersungkur, sebagian lainnya mengalami luka-luka.

Tuntutan mereka bukan tanpa alasan. Infrastruktur jalan rusak, pelayanan kesehatan di RSUD yang dikeluhkan buruk, hingga dugaan praktik korupsi menjadi bahan bakar kemarahan yang meledak di depan gerbang kekuasaan.

Namun di saat situasi di luar semakin memanas, sebuah pemandangan kontras justru mencuat dari dalam gedung Pemda.

Makan Siang di Tengah Kericuhan

Sebuah video yang beredar memperlihatkan Plt Bupati Bekasi duduk santai di dalam ruangan. Di hadapannya, nasi kotak tersaji. Ia tampak lahap menyantap makanan, berbincang ringan, bahkan tertawa.

Tak ada raut tegang. Tak ada tanda kekhawatiran.

Padahal, hanya beberapa meter dari tempatnya duduk, mahasiswa tengah berhadapan dengan aparat, bahkan hingga terluka.

Kontras ini sontak memantik kemarahan publik. Banyak yang menilai, ada jurang empati yang menganga lebar antara pemimpin dan rakyatnya.

“Ini Potret Buruk Empati Pemimpin”

Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi, Ade Gentong, mengecam keras insiden tersebut.

“Saat rakyatnya berdarah-darah di luar gerbang, pemimpinnya justru asyik makan siang. Ini bukan sekedar ketidaksensitifan, ini potret buruk etika birokrasi yang memutus empati,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tindakan represif aparat terhadap mahasiswa yang dinilai bertentangan dengan prinsip demokrasi.

Menurutnya, penyampaian aspirasi adalah hak konstitusional yang seharusnya dilindungi, bukan dibungkam dengan kekerasan.

Ade mendesak Pemda Bekasi untuk segera membuka ruang dialog yang transparan dan serius menanggapi tuntutan mahasiswa.

“Masalah yang mereka bawa itu nyata, jalan rusak, pelayanan kesehatan buruk, hingga dugaan korupsi. Ini bukan isu baru, tapi terus dibiarkan,” tambahnya.

Sindiran Menohok untuk Penguasa

Di akhir pernyataannya, Ade melontarkan kalimat yang kini ramai diperbincangkan:

“Pemimpin seharusnya kenyang paling terakhir setelah rakyatnya sejahtera. Bukan makan siang santai saat aspirasi rakyat dibalas pukulan di depan rumahnya sendiri.”

Api yang Belum Padam

Peristiwa ini bukan sekedar bentrok biasa. Ia menjadi simbol krisis kepercayaan yang semakin nyata antara masyarakat, khususnya mahasiswa, dan pemerintah daerah.

Pertanyaannya kini sederhana, namun tajam: Siapa yang sebenarnya didengar oleh kekuasaan, teriakan rakyat, atau suara sendok di atas kotak makan?

red

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini