Tangis Haru Warnai Wisuda Al-Jamiliyyah: Santri Bersimpuh, Memohon Maaf kepada Orang Tua

0

Sukabumi – Suasana haru tak terbendung mewarnai prosesi wisuda santri angkatan ke-34 Pondok Pesantren Al-Jamiliyyah di kampung Cimahi, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (12/4/2026).

Tangis pecah ketika para wisudawan dan wisudawati diminta untuk bersimpuh di hadapan orang tua mereka, memohon maaf serta mengungkapkan rasa terima kasih atas kasih sayang dan pengorbanan yang tak terhingga.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam rangkaian acara. Para santri, yang selama bertahun-tahun ditempa di pesantren, akhirnya kembali menatap wajah orang tua mereka, sosok yang mengantarkan mereka menuju gerbang ilmu.

Dengan suara bergetar, panitia mempersilakan para santri putra untuk berdiri, berbalik arah, dan mencari orang tua mereka di antara kerumunan. Satu per satu, mereka berlari, memeluk, dan mencium tangan serta wajah orang tua dengan air mata yang tak terbendung.

Tak lama berselang, giliran santri putri melakukan hal yang sama. Suasana pun berubah menjadi lautan tangis haru. Pelukan hangat antara anak dan orang tua menjadi saksi bisu perjalanan panjang penuh pengorbanan.

“Maafkan aku, Ibu… maafkan aku, Bapak. Terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah diberikan,” ucap para santri lirih, di sela tangis yang pecah.

Pengakuan jujur pun terucap, tentang kesalahan, pembangkangan, hingga ketidakmampuan membalas jasa orang tua. Banyak di antara mereka mengakui belum mampu membuat orang tua bangga, bahkan kerap melukai hati dengan sikap dan ucapan.

Namun di balik itu, tersimpan kesadaran mendalam akan besarnya cinta dan pengorbanan orang tua yang tak pernah meminta balasan.

“Kami sering melanggar nasihat, membuat marah dan kecewa. Tapi kalian tetap bertahan, tetap menyayangi kami tanpa pamrih,” ungkap Zahra Budhiyanti, salah satu santri.

Tangisan semakin pecah saat doa-doa dipanjatkan. Para santri memohon kepada Allah SWT agar mengampuni dosa-dosa mereka kepada orang tua serta membalas segala kebaikan dengan pahala yang berlipat.

“Ya Allah, kabulkan doa kami. Jadikan kami anak yang bisa membahagiakan orang tua kami,” lirih mereka.

Momen ini menjadi refleksi mendalam bahwa keberhasilan para santri hari ini tidak lepas dari doa, pengorbanan, dan kasih sayang orang tua. Wisuda bukan hanya tentang kelulusan, tetapi juga tentang kesadaran untuk berbakti dan memperbaiki diri.

Acara tersebut ditutup dengan suasana penuh kehangatan, di mana pelukan dan air mata menjadi bahasa yang menyatukan cinta antara anak dan orang tua, sebuah momen yang akan terus dikenang sepanjang hayat.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini