Terkurung di Najran! Pembantu Migran Asal Karawang Terlantar di Kantor Penyalur Saudi

0
Caption: Terkurung di Najran! Pembantu Migran Asal Karawang Terlantar di Kantor Penyalur Saudi

Karawang — Harapan memperbaiki ekonomi keluarga justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Maemunah, pekerja migran asal Desa Kutawargi, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Baru tiga bulan menginjakkan kaki di wilayah Najran, Arab Saudi, perempuan itu kini mengaku hidup seperti tahanan: tidak dipekerjakan, tetapi juga tak dipulangkan.

Alih-alih bekerja secara layak, Maemunah justru bolak-balik dipindahkan dari rumah majikan ke kantor penyalur bernama El Taml ElRaqe. Ia hanya bekerja satu hingga empat hari, lalu dikirim kembali, berulang kali, hingga akhirnya dinyatakan “tidak dipakai lagi”.

“Kerja sebentar, dipulangkan. Kerja lagi, dipulangkan lagi. Sekarang katanya sudah tidak dipakai, tapi juga belum dipulangkan,” keluhnya dalam pesan kepada redaksi, Sabtu (21/2/2026).

Namun penderitaan tak berhenti di situ. Sudah sekitar dua bulan ia berada di kantor tersebut tanpa kepastian nasib. Maemunah mengaku tidak bebas keluar kamar.

“Kayak di penjara. Dikunci terus. Tidak bisa ke mana-mana,” tulisnya lirih.

Terjebak di Tengah Sistem

Keluarga di Karawang hanya bisa menerima kabar lewat pesan singkat. Lokasi tempat Maemunah berada disebut cukup jauh dari pusat kota Najran, membuat pemantauan nyaris mustahil.

Nama sponsor berinisial WR disebut masih warga desa setempat. Sementara perusahaan penyalur yang memberangkatkan Maemunah adalah PT Duta Banten. Hingga berita ini diturunkan, keduanya belum memberikan keterangan resmi.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: Mengapa pekerja sudah tidak dipakai, tetapi tidak dipulangkan? Siapa yang bertanggung jawab selama ia “ditahan” di kantor penyalur?

Permohonan Putus Asa

Maemunah kini hanya punya satu harapan, pulang.

“Tolong bantu Maemunah supaya bisa pulang cepat. Mae sudah tidak tahan lama-lama di sini.”

Keluarga mendesak pemerintah daerah, dinas tenaga kerja, hingga Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia turun tangan.

Alarm Lama yang Kembali Berbunyi

Kasus ini kembali membuka luka lama perlindungan pekerja migran Indonesia, terutama perempuan, yang kerap berada di ruang abu-abu hukum di negara penempatan: tidak bekerja, tapi juga tidak bebas.

Publik kini menunggu: Apakah negara hadir sebelum semuanya terlambat? Atau jeritan Maemunah akan menjadi satu lagi cerita sunyi dari luar negeri yang hanya ramai sesaat di dalam negeri?

Karena bagi keluarganya di Karawang, ini bukan sekedar berita. Ini soal seorang ibu yang hanya ingin pulang.

Penulis: Alim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini